Mengabadikan Detik

Minggu, 9 Desember 2012

image taken from thewritersworkshop.net

image taken from thewritersworkshop.net

Hari itu, adalah hari yang telah saya tunggu-tunggu sejak dua hari sebelumnya. Ketika mendapatkan pesan singkat yang menyatakan bahwa saya diterima menjadi calon anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Jatinangor, saya selalu meminta kepada Allah untuk mempercepat waktu hingga hari Minggu ini. Pagi harinya, saya bangun dan segera mempersiapkan diri untuk menghadiri Tulis 2 (temu penulis) yang menjadi agenda pertama FLP Jatinangor untuk para calon anggotanya. Pukul 07.30 saya berangkat dari tempat kost saya, menuju Arboretum UNPAD. Well, Arboretum adalah salah satu tempat kesukaan saya sejak saya menjadi salah satu mahasiswi Fakultas Pertanian di UNPAD. Sekitar satu bulan yang lalu, saya dan teman-teman seangkatan saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Arboretum dan mengadakan observasi di laboratorium alam ini. Sebagai mahasiswi Fakultas Pertanian, saya suka berada di alam, hanya untuk sebatas melihat-lihat makhluk hidup ciptaan Rabb yang menghijaukan bumi, tumbuh sebatas mata kaki atau bahkan menjulang tinggi seakan mencakar langit. Ya, di sini saya bisa bertemu dengan tumbuhan atau juga tanaman. Menyenangkan.

Sekitar satu minggu yang lalu, saya mengunjungi taman Arboretum untuk kedua kalinya, mengingat ada kegiatan Agroschooling IAAS yang menjadikan Arboretum sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatannya. Hari ini, sepertinya akan menjadi hari yang membuat saya semakin menyukai tempat ini. Seluruh calon anggota FLP Jatinangor berkumpul di taman Arboretum. Sekitar pukul 8 tepat, saya mulai kebingungan mencari teman-teman dan juga kakak-kakak FLP di sekitar Arboretum. Sekitar setengah jam lamanya saya celingukan mencari stand berkumpulnya orang-orang ini. Bukan karena terlalu banyak orang di sini, tapi karena saya tidak mendapat kejelasan di mana saya dan teman-teman harus berkumpul. Setengah jam berlalu, dan akhirnya saya melihat sosok Teh Wiyan yang baru datang. Sejak itulah, saya mulai melihat kehadiran teman-teman baru saya yang juga merupakan calon anggota FLP Jatinangor. Setelah saling menyapa dan berkenalan, kami memulai kegiatan yang telah direncanakan, dengan formasi duduk lesehan, dilengkapi alas duduk sederhana. Satu agenda yang paling utama hari ini adalah berbincang-bincang bersama bapak Irfan Hidayatullah (penulis novel Sang Pemusar Gelombang), dengan tema menulis dan peradaban. Setelah acara dibuka oleh Kak Wiyan, bapak Irfan pun memulai perbincangan dengan menyapa kabar kami semua. Perbincangan kami mulai terasa menarik ketika beliau bercerita tentang kesederhanaan Forum Lingkar Pena. Beliau bercerita, bahwa FLP adalah salah satu komunitas penulis yang benar-benar tumbuh dan maju dalam kesederhanaan. Saya mencoba untuk mencari tahu apa arti kesederhanaan yang dimaksud bapak Irfan, dan dengan tidak terduga saya mendapat jawabannya. Seperti inilah kesederhanaan FLP, saya merasakannya. Duduk lesehan, berbincang dengan salah satu penulis tanpa perlu ruang formal seperti biasanya, berkumpul di alam terbuka dengan alas duduk seadanya, inilah kesederhanaan FLP dan para anggotanya. Hal pertama yang saya dapat dari hari itu adalah Mencintai Kesederhanaan🙂

Perbincangan semakin menyenangkan ketika pak Irfan menyinggung tentang menulis dan peradaban. Menulis dan peradaban, entahlah, sepertinya saya sudah terlalu sering mendengar topik pembicaraan seperti itu. Pada hari itu, pak Irfan membantu saya membuka pikiran saya mengenai tulisan dan perkembangan peradaban. Sudah menjadi teori umum bahwa tulisan dapat mengubah peradaban, dan begitupun sebaliknya. Ada hal menarik yang beliau ceritakan pada kami, ketika beliau berkata: “..Bukankah memang sebenarnya detik ini itu tidak ada?..”, saya mencoba untuk berpikir sejenak, memikirkan apa yang pak Irfan katakan barusan. Beliau melanjutkan, “Coba teman-teman pikirkan, sebenarnya detik ini itu tidak pernah ada, ketika kita mengucapkan detik ini, maka saat ini kita kehilangan detik ini yang tadi.”. Saya masih tetap fokus pada fikiran saya. Ya, saya mendapatkannya! “Bukankah begitu? Kita akan terus kehilangan waktu kita tanpa batas. Satu-satunya cara agar kita tidak kehilangan waktu itu adalah dengan mengabadikan detik.”. Well, pak Irfan berhasil lagi membuat saya kebingungan. “Satu-satunya cara agar kita tidak kehilangan waktu kita adalah dengan mengabadikan detik. Ya, mengabadikan detik melalui tulisan”. Akhirnya saya paham, pak Irfan mengajarkan kami bagaimana caranya agar kami tidak kehilangan waktu kami, yaitu dengan mengabadikan detik. Mengabadikan detik dengan tulisan. Mengabadikan setiap kejadian dalam sebuah cerita tertulis. Pak Irfan membuat saya paham betapa pentingnya tulisan dan menulis. Detik demi detik akan terasa lebih berharga ketika kita mampu untuk mengabadikannya, salah satunya dalam bentuk tulisan. Luar Biasa pak Irfan. Hal kedua yang sangat berarti yang saya dapatkan dari hari itu adalah Mengabadikan Detik🙂

Hari itu benar-benar menjadi hari yang luar biasa bagi saya. Apa yang pak Irfan ceritakan, lewat ucapan beliau atau bahkan lewat lagu-lagu beliau yang dinyanyikan saat itu, membuat pikiran saya semakin terbuka akan dunia tulisan. Terimakasih atas kesempatannya saya ucapkan pada pak Irfan, terimakasih juga atas Ilmu berharga yang telah berikan. Terimakasih pula untuk kakak-kakak FLP (Forum Lingkar Pena) Jatinangor yang sudah menerima saya sebagai bagian dari keluarga baru FLP. Semoga semangat menulis kita tidak akan pernah padam.

Keep Writing and Keep Moving Forward !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s