Berani Jujur itu, Hebat!

Saya sedikit bingung sama keadaan Indonesia. Bukan sama masalah yang harus dihadapin, tapi sama orang-orang yang ada di dalemnya. Kebanyakan dari kita seringnya ngediskusiin masalah, bukan ngediskusiin solusi. Sebut saja Indonesia Lawyers Club, dari pertama saya tonton itu acara, yang ada orang-orang yang ada di dalam acara itu malah ngediskusiin masalah yang ada, debat yang terkesan gontok-gontokan, feedback-nya apa? Hasilnya apa? setahu saya sih selesai nyampe situ aja. Setelah selesai diskusi, setelah selesai debat, engga ada hasil apa-apa, engga ngeberesin itu masalah juga, dan besoknya diskusi masalah baru lagi. Untungnya apa?

Saya suka Quotes pak Anies yang menyatakan: Indonesia Mengajar datang bukan untuk mendiskusikan masalah, tapi kita datang untuk mendiskusikan solusi. Beuh, engga mantap gimana coba, saya sih lebih respect terhadap pak Anies dan semua rengrengan Indonesia Mengajar yang benar-benar nyata turun ke lapangan, bukan hanya berdiskusi tapi langsung menyelesaikan masalah. Ini lebih bermakna daripada hanya berdiskusi, debat, gontok-gontokan tanpa ada hasilnya. Well mungkin udah jadi tugasnya kayak gitu, tapi saya yakin mereka orang-orang yang pintar, orang-orang yang katanya paham sama semua masalah di Indonesia, tapi kenapa masih melipat tangan seperti itu?

Kalau saya pikir, ini sih engga jauh beda sama kenyataan orang-orang yang mengaku dirinya anti korupsi. Coba liat foto di bawah ini:

Mereka demo, turun kejalanan, bawa spanduk dengan tulisan “Pelajar Resah. Korupsi Di mana-mana”, tapi gimana sama foto ini?

Di satu jalanan, para pelajar sedang mendemo para koruptor yang suka ngambil duit rakyat, tapi di satu kelas para pelajar sibuk sama contekan mereka. What the awkward thing! Kita seringkali dikalapkan dengan para koruptor yang makan uang rakyat, tapi kita malah sering menganggap sepele sama kebiasaan nyontek di kelas. Kita seringkali merasa jengkel dengan para koruptor, sebut saja Nazarudin atau Gayus Tambunan, tapi ketika ujian di sekolah atau di kampus kita minta jawaban dari temen, atau malah buka kopean. Jujur saja, saya juga pernah nyontek di kelas, apalagi ketika saya masih SMA. Tapi hasilnya, terkadang saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman-teman saya yang saya kasih nyontek, agak kesel. Atau kadang pula saya mendapat nilai yang besar, misal 95 dari 100, tapi jujur itu sama sekali engga bikin bangga, malah bikin nyesel, engga enak aja dapet nilai yang besar dari hasil contekan. Di kampus sekarang, lingkungan saya tidak jauh beda dengan lingkungan saya ketika SMA. Mencontek sudah menjadi hal biasa atau hal yang lumrah, tapi jujur saya masih terus mencoba untuk tetap pada pendirian saya, berhenti mencontek dan berhenti memberi contekan. Susah banget lah! Apalagi kalau dihadapkan dengan pilihan solidaritas. Mungkin teman-teman juga paham apa yang saya maksud, but it is the fact!

Hanya saja, Pandji Pragiwaksono pernah bilang: Indonesia hanya butuh orang-orang yang optimis untuk maju. Dari sana saya yakin, jika saya optimis untuk tetap berpegang teguh pada pendirian saya untuk tidak mencontek dan menjauhi hal-hal yang disebut korupsi, saya yakin saya bisa. Tidak hanya saya, tapi juga anda. Ini pasti, karena berani jujur itu, Hebat!

berani-jujur-hebat1

2 thoughts on “Berani Jujur itu, Hebat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s