Daddy…

Hamparan rerumputan menyeliputi lahan seluas mata memandang. Bunga berwarna merah, kuning, pink dan oranye ikut membuat indah pemandangan. Burung berkicau seiring sepoy angin yang mengelus lembut setiap helai rambut kucing yang kelaparan. Matahari beranjak bangun dari tidur malamnya, menyapa bulan yang semakin tak terlihat. Terimakasih. Saatnya aku bertugas, ucapnya pada bulan. Bulan tersenyum, lalu perlahan menghilang diselimuti segumpal kabut putih yang lembut, selembut kapas. Pagi yang indah.

Daddy membelai lembut rambut Sophie yang berwarna kecokelatan. Belaiannya membuat Sophie merasa nyaman berada di pelukan ayahnya. Padang rumput ini, selalu menjadi tempat kesukaan mereka berdua. Tempat di mana biasanya Daddy membacakan cerita Alice di Negeri Ajaib atau cerita Putri Salju dan 7 Kurcaci pada Sophie, tempat utama yang menjadi tujuan utama Sophie disaat ia sedang marah pada Daddy. Hari ini, mereka sedang memiliki waktu yang cukup untuk bersama-sama. Mereka bertatapan cukup lama dan akhirnya Sophie membuka mulutnya, bersuara.

“Daddy..” suara parau Sophie memecahkan suasana. Ia mengusap kedua matanya, mencoba menghilangkan benda kecil yang menutupi retina mata sebelah kirinya.

“Apa kau tahu,” ia melanjutkan berbicara, “Tuhan menciptakanku dari apa?” dengan susah payah Sophie mencoba membuat suaranya tidak terdengar parau. Namun tetap, ia tak berhasil. Tidak salah lagi, ini karena ia tidak tidur dengan cukup tadi malam. Hujan yang sangat deras dan petir yang terus menggelegar, membuatnya terus terjaga sepanjang malam. Terdiam di balik selimut kecilnya.

Daddy tersenyum, lalu berkata “Menurutmu?” Suara beratnya menggambarkan sosok pria yang semangat dan tegas. Di umurnya yang ke 42 tahun, ia masih terlihat muda sekali.

Lalu Sophie mengernyit, “Setahuku, Tuhan menciptakan manusia dari tanah.” Raut wajah Sophie berubah menjadi sedikit bersemangat. “Tapi daddy, aku tak begitu percaya jika aku terbuat dari tanah.” Sophie melepaskan pelukan daddy dan menggerakkan kedua tangannya. Membolak-balikkan kedua telapak tangannya, mengamati dengan seksama lalu memperlihatkannya kepada daddy. “Lihat daddy, tanah tidak mungkin selentur kulitku, tanah juga tak mungkin berubah menjadi darah.” Jelas Sophie dengan penuh percaya diri.

Ia hanya ingin membuktikan ketidakpercayaannya akan teori bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup bernama manusia dari segumpal tanah. Sophie masih terlalu kecil untuk memahami itu semua. Ia berpikir, setiap manusia benar-benar dibentuk oleh sejenis tanah yang selalu ia mainkan bersama teman-teman kecil lainnya. Bahkan mungkin teman-teman lainnya pun memiliki pemikiran yang sama dengannya.

Daddy hanya tersenyum, memerhatikan setiap tingkah pola gadis kecilnya. Daddy adalah satu-satunya orang yang selalu tersenyum sepanjang hari, apapun yang terjadi, apapun yang ia rasakan, senang atau sedih, ia selalu memberikan senyuman terbaiknya kepada orang-orang yang bertemu dengannya. Terutama untuk gadis kecil yang begitu istimewa bagi hidupnya, Sophie.

“Apa ada yang salah dad? Aku sedang tidak becanda.” Sophie mengeluh. Hidung kecilnya terus mengembang kempis seiring udara yang ia ambil untuk bernafas. Kedua bola mata yang sangat bulat, berada di sudut kanan atas matanya, menandakan ia sedang berpikir dengan keras. Rambut alisnya yang berwarna hitam tebal sedikit menaik seiring dengan keningnya yang mengerut kebingungan. Mulutnya tak henti-henti mengucapkan kata-kata yang tidak terdengar suaranya. Ia menggumam sendiri.

Daddy memberikan cubitan kecil pada pipi kiri Sophie yang memerah. “Aw!” Sophie mengerang kesakitan. Lalu cubitan daddy, berubah menjadi belaian lembut.

”Apa kau tahu sayang, Tuhan menciptakanmu dari sekotak kasih sayang.” ucap Daddy. Daddy berhasil mendapat perhatian Sophie. Ia tahu, gadis kecilnya kebingungan seraya menangkap satu persatu kata yang keluar dari mulutnya. Ia sengaja menghentikan sejenak perkataannya, memberi kesempatan pada Sophie untuk berpikir.

“Kasih sayang? Maksudmu?” Tanya Sophie dengan kebingungan. Suaranya masih terdengar parau. Sangat parau. Mungkin ia membutuhkan segelas air putih untuk melancarkan tenggorokannya yang kering.

“Ya betul. Tuhan menciptakanmu dari sekotak kasih sayang.” Daddy memetik setangkai bunga sepatu yang pohonnya berada tepat di samping mereka. Mengamati bunga itu, lalu memberikannya pada Sophie. “Ia, memberimu sentuhan cinta dengan mantra lembut kedamaian, lalu kau diturunkannya ke bumi di tengah lautan kebahagiaan.”

 Daddy menatap lembut wajah Sophie yang mulai terlihat gelisah kebingungan. Ia tahu, gadis kecilnya tidak begitu paham apa yang ia katakan.

“Aku tak mengerti dad” kata Sophie, “tapi, kalau iya benar apa katamu bahwa Tuhan menciptakanku dari sekotak kasih sayang, lalu untuk apa aku diciptakan?” Sophie kembali bertanya dengan nada penasaran yang ia buat-buat, berharap daddy masih mau menjawab setiap pertanyaan yang memenuhi pikirannya.

“Untuk apa?” Daddy mengulangi pertanyaan Sophie. “Tentu saja untuk menjadikan engkau menjadi apa yang kau inginkan, Sophie” ia mencubit kecil hidung Sophie. “Apa kau paham sayang?”

 Sophie memainkan bunga yang tadi dipetik oleh ayahnya. “Bagaimana kalau aku tak paham?” Tanyanya pada daddy.

“Benarkah?” suara daddy bernada meragukan dan mengejek Sophie. Ia tahu, gadis kecilnya hanya berpura-pura tak paham, walaupun sebenarnya belum tentu ia benar-benar paham.

“Baiklah, aku paham. Tapi bagaimana jika aku tidak tahu aku akan menjadi apa. Maksudku, aku benar-benar tidak tahu aku harus menjadi apa.” Sophie menggeletakan bunga yang semakin layu di atas batu kecil di depannya. Lalu membiarkannya begitu saja. “Apa kau tahu dad aku akan menjadi apa?”

Raut wajah Sophie menggambarkan keseriusan, sangat kontras dengan raut wajah daddy yang begitu tenang dan santai. Ada rasa kedamaian yang daddy rasakan pagi itu. Daddy tidak langsung menjawab pertanyaan Sophie, ia hanya terdiam.

“Dad.. Apa kau tahu?” Sophie menggoyangkan lengan kanan daddynya. Lalu daddy menjawab “Aku tidak tahu” ujarnya sambil tetap tersenyum. “Bagaimana kalau kau putuskan sekarang?” saran daddy padanya.

Sophie terlihat gelisah. Mencoba berpikir dengan keras. Aku akan menjadi apa? Aku harus jadi apa? Hmm mungkin menjadi… ah tidak.. atau.. tidak tidak.. Sophie terus menggumam dalam hati.

Beberapa menit kemudian, ia kembali berbicara. “Baiklah” Sophie menghela nafas. “Aku tahu daddy, aku sudah memutuskan akan menjadi apa yang engkau inginkan.” Daddy menunjukkan ekspresi terkejut yang sebenarnya ia tidak terlalu terkejut mendengar jawaban Sophie. Ia tetap tersenyum seraya terus membelai rambut Sophie.

“Sekarang kau harus beri tahu aku” lanjut Sophie “Kau ingin aku menjadi apa dad?”

“Kau tanya padaku?” daddy balik bertanya pada Sophie.

Sophie terlihat sedikit kesal. Sebenarnya, sangat kesal. “Tentu saja.” Jawabnya dengan tegas. “Kau pikir aku sedang berbicara pada bunga yang layu ini dad? Mustahil”.

Mendengar jawaban Sophie, daddy langsung berpura-pura sedang memikirkan jawaban yang tepat untuknya. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan juga menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya, sambil menunduk. Ya, itu yang selalu dilakukan daddy ketika ia memikirkan sesuatu.

“Daddy…” ujar Sophie dengan nada kekanak-kanakan.

“Sophie, kau harus tahu ini.” Daddy mengangkat kepalanya, lalu menatap mata Sophie dalam-dalam. “Semenjak kau hadir dalam hidupku, satu keinginanku hanyalah menjadikanmu apa yang engkau inginkan. Itu saja.” Kali ini daddy menjawab dengan serius disertai nada yang lembut.

“Daddy…” Sophie menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Jawabanmu membuat aku bingung.” Ia terlihat menyerah.

Daddy menarik kedua tangan Sophie, kali ini ia bisa melihat wajah Sophie yang terlihat sangat lelah. Kantung matanya membesar, menandakan gadis kecilnya yang membutuhkan waktu untuk tidur.

“Sayang..” ujar daddy. “Aku hanya ingin engkau menjadi apa yang kau inginkan. Apapun itu. Aku akan senang jika kau mendapatkan apa yang kau cari, menjadi apa yang kau mau.”

Sophie membalas tatapan daddy, lalu berkata. “Tapi, apa aku bisa?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya jelas tergambarkan dari raut wajahnya yang penuh keraguan.

“Tentu saja.” Tegas daddy sambil tersenyum. “Aku yakin, suatu saat nanti, jika waktunya sudah datang kau akan tahu apa yang engkau mau. Kau juga akan tahu, menjadi apa engkau kelak di masa depan. Kau percaya itu?” tanyanya pada Sophie yang sama sekali tidak menggerakan pandangannya.

“Haruskah aku percaya?” volume suara Sophie melemah.

“Tentu saja.” Ujar daddy sambil mencium lembut kedua tangan Sophie.

“Baiklah daddy.” Ujar Sophie. “lalu aku ingin tahu, untuk apa engkau diciptakan?”

Daddy terus membelai lembut pipi Sophie, lalu berkata. “Harus aku jawab?”.

“Harus Daddy!” jawab Sophie dengan nada desakan.

“Sophie…” Daddy mulai berbicara. “Tuhan menciptakanku untuk sesuatu yang berharga.” Ia berhenti untuk menghela nafas. “Tuhan menciptakanku untuk sesuatu yang sangat indah, Sophie. Yaitu untuk bertemu dan menjagamu.”

Perkataan Daddy membuat Sophie luluh. Senyuman indah terukir di wajahnya. Tiba-tiba perasaan bahagia yang sangat luar biasa menyesakkan dadanya. Air mata perlahan mengalir dari kedua matanya yang bulat. Sophie sebut itu sebagai air mata kebahagiaan.

Daddy mengusap air mata Sophie, tersenyum lalu berkata. “Aku menyayangimu, Sophie.” Ia memeluk Sophie. Sophie membalas pelukan ayahnya dengan erat, lalu ia berkata. Suaranya terdengar semakin parau dan seolah-olah semakin tenggelam oleh suasana.

“Daddy, aku mencintaimu melebihi yang engkau tahu…”

“Daddy, kumohon jangan pernah pergi meninggalkanku…”

***

Sophie terbangun dari tidurnya. Pipinya telah basah oleh air mata yang mengalir deras. Ia memerlukan waktu beberapa menit untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sophie berusaha untuk menghentikan air matanya yang terus mengalir. Ini hanya mimpi.

Sophie hanya bermimpi. Memimpikan Daddy yang telah lama pergi meninggalkannya. Daddy yang telah bersama Tuhan. Daddy yang sangat ia cintai.

Ini hanya mimpi.

Sophie terlihat lemas. “Aku merindukanmu, daddy.” Lalu Sophie semakin larut dalam tangisnya. Pagi itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s