Percaya ga percaya

Percaya ga percaya, orang lain ga akan pernah peduli sama segala proses hidup yang udah kita lewatin. Mereka Cuma pengen tahu, sesukses apa kita nanti.

Dan percaya ga percaya, Tuhan ga pernah nuntut kita buat jadi sesukses orang sukses. Tuhan Cuma pengen tahu, seberapa berat, seberapa kuat, dan seberapa panjang proses yang udah kita lewatin.

Kesimpulannya, pilih orang lain atau pilih Tuhan?

~Riyanti Wikara

Semenjak kuliah saya mendapat nama panggilan baru. Singkat, padat, jelas, agak aneh dan jadinya terdengar seperti kode, kode permainan. BOCIL. Awalnya Cuma beberapa temen deket, lalu menyebar satu kelas, nyebar lagi ke kelas lain, lalu satu angkatan, pada akhirnya semua orang memanggil saya bocil, termasuk ketua BPM (leader saya), kakak angkatan, dan yang lainnya.

BOCIL itu bocah kecil. Beberapa orang, awalnya, ga setuju saya dipanggil bocil, bocah sih, tapi badan saya ga kecil. Beberapa orang malah lebih seneng manggil saya bocil dibanding harus manggil saya pake nama asli. Alesannya? Karena saya masih bocah, katanya. Agak risih, tapi lama kelamaan jadi asik. Kan lucu tuh, lagi jalan di koridor tiba-tiba ada yang manggil, “Cil… cil.. kemane?” atau lagi naik odong-odong, dan posisinya lagi banyak orang, tiba-tiba ada temen se-fakultas nyapa “Bocil, sendiri aja?” dan orang-orang langsung memerhatikan saya. Saya sih Cuma bisa senyum-senyum.

Sebulan dua bulan kuliah, ga banyak aktifitas yang bisa saya lakuin, selain ikut Mabim, persiapan Mabim Fest, pergi ke perpus, nulis esay, online, belajar (kadang) dan tidur. Bulan ke-3 agak mulai sibuk, nyibukin diri dengan hal-hal yang saya sendiri lupa apa itu. Bulan ke-4 dan ke-5 saya mulai aktif lagi di Osis Jabar, mulai merintis skill di BPM, dan mulai bergabung dengan IAAS LC UNPAD. Sebatas itu, tapi semuanya menguras waktu dan tenaga saya. Saya mulai terbiasa lagi pulang malam ke kost-an, atau memenuhi waktu saya dengan rapat ini dan itu, atau membawa sebundel surat-suratan, kertas-kertas yang bejibun banyaknya di map yang setiap hari saya bawa ke kampus.

Seolah bangun dari tidur panjang, setelah hampir 5 bulan saya menyetop seluruh kegiatan dan aktifitas saya ketika SMA dan sekarang semua kembali seperti dulu lagi. Ga ada yang berubah, ga ada yang aneh, karena percaya ga percaya saya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini, hal-hal yang selalu menyibukkan saya.

Saya suka ketika mas Pandji -pada suatu kesempatan- berkata “Ada yang salah kalo gue ngerasa nyaman sama suatu keadaan..”. Kalimatnya simple, tapi artinya dalem banget, dan ini yang selalu memotivasi saya untuk tidak berdiam diri.

Kalau tiba-tiba saya merasa nyaman berdiam diri di kamar kost saya tanpa melakukan sesuatu, saya harus mencari hal-hal yang lebih berguna daripada harus berdiam diri. Mungkin menulis, atau baca novel, atau baca buku pelajaran, atau apalah itu, yang penting saya melakukan sesuatu yang berguna.

Kalau tiba-tiba saya merasa nyaman menghabiskan waktu dengan handphone di tangan saya, itu berarti ada yang salah, saya harus menyibukkan diri dengan hal lain yang lebih berguna.

Well, kalau ga dibiasakan dari sekarang, ya kapan lagi?

Suatu hari, teman-teman kuliah saya berkata “Cil, masa kecil lu tuh terlalu berat!” saya mengernyit, lalu mereka melanjutkan. “Iya, berat banget. Gila aja, kita mah masih seneng nonton digimon, lah ya kamu udah ngurusin SBY, Korupsi, Politik, Indonesia, padahal kan masih bocah cil..”. Saya tahu mereka becanda, walau sebenernya ada seriusnya. Kami tertawa, dan saya tidak menjawab apapun ketika itu.

Di saat mereka perlahan mulai lupa dengan perkataan mereka, saya masih terus mencari jawaban yang tepat atas setiap bentuk keheranan teman-teman saya.

Sampai akhirnya saya menemukannya.

Saya harus benar-benar bersyukur ketika Tuhan menciptakan saya sebagai pribadi yang seperti ini, bukan hyperaktif tapi lebih ke ga bisa bersikap apatis. Dunia saya mungkin berbeda dengan dunia teman-teman sebaya saya. Mereka dengan segala urusan mereka, saya dengan segala urusan saya. Tapi, bukankah memang dunia masing-masing ga akan ada yang sama? Dan itu tergantung, tergantung pilihan. Sejak saya menginjak bangku SMA, usia saya masih berkisar 13 tahun, tapi kehidupan saya sudah sangat terlalu berat jika harus saya sikapi dengan leha-leha. Saya salah, jika saya malah memilih untuk tidak memaksa diri untuk berkenalan dengan yang namanya kerasnya hidup. Salah juga, kalau saya tidak mulai merintis sesuatu, baik itu berbentuk soft skill maupun hard skill.

Hingga akhirnya saya terlalu ga-bisa-diem buat ukuran anak SMA. Saya mulai tertarik pada politik, saya mulai senang berdiam lama-lama di depan televisi setiap pukul 12.00 (hari Minggu), hanya untuk sekedar menonton berita, saya mulai terbiasa setiap pagi browsing di handphone saya, membuka kompas.com atau merdeka.com. Untuk apa? Baca. Itu saya lakukan hingga saat ini.

Ada alasan kuat mengapa saya harus seperti ini.

Pertama, saya tidak ingin jadi anak muda yang bisanya berkomentar tanpa otak yang jelas. Mencaci pemerintah tanpa tahu apa sebenarnya yang dicaci. Menjadi anak muda yang sok tahu padahal sebenernya tidak tahu apa-apa. Saya tidak mengatakan bahwa saya sudah berhasil tidak seperti itu, tapi setidaknya saya sudah berusaha menghindar agar tidak seperti itu.

Alasan kedua. Indonesia penuh sama yang namanya anak muda. Setengah dari jumlah penduduk Indonesia adalah manusia berusia sekitar 40 tahun ke bawah. Ini bagus, karena semakin besarlah kesempatan Indonesia buat bisa bangkit dan maju, dimajuin sama anak-anak mudanya. Tapi sebenarnya ini juga bisa jadi malapetaka, kalau ternyata anak-anak muda Indonesia pada apatis semua. Siapa yang mau pegang Indonesia? Para pensiunan? Para bisnisman yang udah ubanan? Ya engga bisa gitu. Tanggung jawab itu sudah seharusnya ada di pundak anak-anak muda. Di pundak saya, di pundak kamu, pundak kita semua.

Ibaratnya mau perang, ya mesti punya pasukan dulu. Udah ada pasukan, ya latih dulu, kuatin dulu, didik dulu, siapin senjata dulu, kalau udah siap ya hayu terjun ke medan perang. Kita juga harus kayak gitu. Sebelum benar-benar terjun ke persaingan global, siapin diri dulu. Kata salah satu dosen saya, yang terpenting dari pribadi seseorang itu adalah scientifically based-nya, apapun itu harus didasari ilmu, termasuk hal-hal seperti ini.

Ambil contoh, percaya ga percaya hidup kita itu ga akan pernah lepas dari yang namanya politik. Sekolah, kampus, keluarga, masyarakat, di dalamnya pasti ada unsure politik. Penyatuan persepsi, pengambilan kebijakan. Itu namanya politik. Tapi sayangnya, persepsi orang-orang terhadap politik sudah semakin bergeser. Politik itu sudah dianggap hal yang mengerikan, negative, kotor, korupsi, uang, dsb. Ini kenapa bisa kayak gini? Karena ga ada ilmu yang dipelajari, karena kita berpersepsi tanpa ilmu.

Ini nih yang jadi permasalahan utama. Kita terkesan kuno: menyimpulkan sesuatu Cuma dari apa yang kita amati tanpa mau masuk ke dalamnya dan mencari tahu kenapa seperti itu. Ini ga bisa dibiarin, budaya kayak gini harus distop. Caranya? Lewat anak mudanya.

Ya siapa lagi kalau bukan kita? Belajar, cari ilmu, asah soft skill, kerja keras, penuhin otak kita sama ilmu, bukan cacian, bukan makian, biar ga sesat. Harus kayak gimana? Jangan leha-leha!

Ilmu sih, tapi bukan berarti harus jadi anak yang kutu buku dalam artian belajar mati-matian sepanjang hari. Jangan pernah mau jadi siswa yang Cuma kutu buku, berangkat nyubuh ke sekolah, belajar, terus pulang, belajar lagi, les, terus les lagi. Bukan gitu! Emang sih ga salah, tapi coba buka diri sama lingkungan. Aktif sana sini. Kagak perlu jadi aktifis, yang penting kagak apatis. Percaya ga percaya, itu kunci suksesnya. Biasain hidup keras sejak sekarang, karena Indonesia bakalan ada di pundak kita suatu saat nanti.

Indonesia butuh kita-kita yang kuat, bukan yang jadi budak kecanggihan teknologi.

Saya belum sukses, tapi setidaknya saya ajak kamu buat sukses bareng-bareng. Dan ini yang selalu saya lakukan.

Percaya ga percaya, pemikiran seperti ini yang nerap di otak saya.

Pemikiran seperti ini yang membuat saya terlalu terkesan sok peduli mikirin urusan yang dianggap belum waktunya.

Percaya ga percaya, pemikiran seperti ini yang terkesan membuat masa kecil saya terlalu berat buat beberapa orang.

Dan percaya ga percaya, ini adalah jawaban saya dari setiap bentuk keheranan teman-teman atas beratnya masa kecil saya.

Masa kecil saya ga berat kok, karena percaya ga percaya, ini adalah simulasi dari kehidupan masa depan saya.

Salam Hormat,

       Bocil

12 thoughts on “Percaya ga percaya

  1. Percaya gak percaya aku bisa sedikit merasa sebagai dirimu, sebagai dirimu ketika usia itu. ya memang tidak semua orang bisa seperti kamu (mungkin juga seperti aku) , kita sama-sama dianugerahi Tuhan dengan ketertarikan terhadap politik yang menurut sebagian orang “belum waktunya”. aku sendiri mulai tertarik politik ketika sd, berawal dari rasa heran dan tidak suka terhadap sikap lingkungan sekolah dan daerahku yang lebih mengagungkan anak-anak pejabat dan memberikan kesempatan yang lebih untuk mereka dibandingkan anak-anak dari kalangan biasa seperti aku. ketika smp aku dituduh dengan sangat buruk atas perbuatan yang sumpah demi apapun aku tidak pernah melakukannya oleh guru BK ku. dari situ aku mulai tertarik dengan psikologi dan memperkuat ketertarikanku dengan politik. aku suka mengkritik pemerintah , karena aku termasuk orang yang terpengaruh oleh media, tapi semakin kesini aku telah menyusun pandangan politikku sendiri, akademisku biasa, tapi aku suka berkomunikasi dan bercanda dengan banyak orang, aku dianugerahi Tuhan dengan kemampuan merangkai kata dan ide-ide yang bermunculan dikepalaku. terkadang sedikit mengkhayal, tapi aku optimis suatu hari aku bisa mewujudkannya. aku suka tersenyum dan tertawa, dan sebagian orang mungkin menganggapku tidak melakukan apa-apa ketika bekerja dalam satu tim, tapi percayalah, ketika mereka berfikir seperti itu, aku tidak pernah merasa benci ataupun kesal, aku terus berfikir mengenai pekerjaan itu, memperhatikan hal-hal detil dari pekerjaan itu yang terkadang dianggap mereka itu hanya sesuatu yang sepele gak ada artinya. senyumku, dan tertawaku itulah sedikit penenang dalam keseharianku, aku ini biasa, mungkin dibandingkan kalian yang lebih aktif, aku ini gak ada apa-apanya, hanya sebagai serpihan pelengkap. aku punya cita-cita yang sama dengan dirimu, ingin membuat perubahan untuk tanah yang kita cintai ini, untuk bersama-sama berjuang, untuk sama-sama berhasil. aku mengandalkan hati dan perasaanku untuk membantu pikiranku dalam berbagai persoalan. aku takut untuk ditinggalkan, dan terlalu sedih untuk dilupakan, walaupun hanya sebagai serpihan pelengkap, aku terus mendukungmu aku terus mendukung kalian, aku terus mengagumi, aku terus mengagumi dan membanggakan kalian, kamu adalah salah satu cermin yang membuatku tersenyum dan semangat. dan ketika aku sedikit mengingatkanmu akan keadaanmu, aku hanya ingin menyampaikan rasa simpatiku, aku takut kamu kenapa-kenapa, tapi terkadang kamu terlalu terlena untuk yang lain dan mengabaikan rasaku, dan itu membuatku berfikir sedih, aku takut, takut untuk kamu. tapi ketika kamu tetap memaksa dan dalam keadaan itu kamu masih bisa tersenyum, itu membuatku sedikit tenang, dan ketika rasa letih itu datang, dan aku menghampirimu dengan perasaan suka untuk menemanimu, tapi kamu membiarkanku begitu saja, aku sedih, dan kembali aku hanya bisa tersenyum menghibur diriku.

  2. Ternyata hanya dengan kumpulan kata-kata sudah bisa membuat orang tersenyum dengan sendirinya, keren dan cuman mau bilang terus lanjut kan perjuangan,nya😀

  3. subhanallah…..luar biasa, andaikan saja banyak remaja kita yang membaca tulisan ini niscaya akan membakar semangat remaja-remaja kita untuk senantiasa berjuang mengapai cita-cita mereka, karena jaman sudah berubah…remaja kita sudah dinina bobokkan dengan sugudang fasilitas yang membuat mereka berada pada zona aman dan aman selalu…salam sukses selalu semoga Allah senantiasa memudahkan segala perjuangan kita semua…

  4. Tulisan bagus, Ri😀 Everyone have their own way to be success, and you have one of that unique way. Let’s being success together, especially sesama ‘bocil’😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s