Logika yang berkata

Ini bulan April, dan berita televisi penuh dengan permasalahan seiring dilaksanakan Ujian Nasional SMA. Saya sedikit kaget, ketika mengetahui bahwa Ujian Nasional atau UN yang minggu ini dilaksanakan nyatanya tidak serentak dilaksanakan se Indonesia. Ada beberapa daerah, yaitu Indonesia bagian timur yang memang terpaksa mengundur jadwal pelaksanaan karena telatnya distribusi soal ke daerah mereka. Saya juga mengernyit ketika mendengar isu bahwa UN ini akan di ulang dengan alasan terlalu banyak kendala. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, “Apa yang telah terjadi?”

Saya seorang mahasiswa, dan itu artinya sudah 3 kali UN berhasil saya lalui: SD, SMP dan terakhir SMA, 3 kali saya harus menghadapi ujian berpilihan ganda, 3 kali saya harus bergelut dengan ‘hari yang menegangkan’, 3 kali pula saya harus merasakan perang batin antara memilih ‘serangan fajar’ atau percaya pada diri sendiri. Dan setelah 3 kali mengikuti Ujian Nasional tidak pernah terbesit dalam pikiran saya bahwa UN adalah hal yang tepat untuk dijadikan indikator keberhasilan pendidikan Indonesia. Tidak pernah sama sekali.

Ada yang salah dengan penerapan Ujian Nasional.

Ujian Nasional kerap dijadikan indikator keberhasilan pendidikan Indonesia, semakin banyak yang lulus maka dikatakan semakin berhasil juga proses pendidikan kita. Saya tidak pernah tahu, apa alasan UN dijadikan indikator tersebut, yang pasti dari apa yang saya rasakan pelaksanaan UN hanya sebatas pembodohan belaka. Rasanya UN itu seperti sebuah lahan yang digunakan untuk pembibitan koruptor. Koruptor yang terdesak menjadi koruptor, atau koruptor yang memang berniat menjadi koruptor. Sebatas itu, kesan UN di mata saya.

Saya bukan tidak setuju dengan diadakannya ujian untuk menentukan kelulusan, hanya saja saya tidak setuju dengan sistem pilihan ganda yang diterapkan di setiap soal ujian nasional. Menurut saya, bentuk soal dengan pilihan ganda hanya akan membuat peluang sontek-menyontek semakin meningkat. Dengan soal berbentuk pilihan ganda, hanya akan membuat murid-murid harus menghafal setiap materi yang sebenarnya tidak selalu diterapkan di kehidupan yang sebenarnya. Pilihan ganda tidak mengajarkan murid-murid untuk berpikir kritis, yang ada hanya membuat tegang para murid dengan pilihan jawaban ‘kalau tidak benar ya salah’. Imbasnya, kita diajarkan untuk berbuat curang, secara tidak langsung.
Dengan pilihan ganda, murid-murid hanya belajar bagaimana cara menghafal dan memilih bukan bagaimana cara menulis. Ini dia, kelemahan Ujian Nasional menurut saya.

Lalu, berbicara pada pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, rasanya banyak sekali permasalahan yang muncul: dari soal yang terlambat disebarkan hingga lembar jawaban yang mudah sobek. Murid SMA mulai dibuat gelisah dengan isu yang tiba-tiba bermunculan, ujian diulangi atau diluluskan semua. Tidak dipungkiri, dengan permasalahan yang fatal seperti ini yang ada murid-murid lebih fokus menghujat pemerintah daripada persiapan menghadapi ujian nasionalnya itu sendiri. Tidak dipungkiri pula, bahwa dengan mencuatnya permasalahan seperti ini, murid-murid akan merasa dijadikan ‘kelinci percobaan’ segala sistem pendidikan di Indonesia.

Tapi, tidak disangka juga bahwa ketegangan ujian nasional masih saja dirasakan oleh murid-murid SMA. Ketakutan akan ketidak berhasilan dalam mengisi jawaban membuat mereka mencoba untuk menghalalkan berbagai cara. Kemarin siang saya melihat liputan berita di salah satu televisi swasta yang menyatakan bahwa ada sekelompok murid SMA di Lampung (kalau tidak salah) yang memilih mengeluarkan uang -patungan- sebesar 30juta rupiah untuk membeli kunci jawaban dari satu mata pelajaran. Saya tersenyum miris, mungkin kepesimisan yang tinggi yang membuat para generasi muda ini memilih untuk menjadi pengecut, membayar uang dengan nominal yang tidak sedikit hanya untuk kunci jawaban yang belum tentu kebenaran. Salah jika saya menyebut mereka bodoh? Kalau mereka memang bodoh, lalu siapa yang harus disalahkan?

Alasan utama murid-murid ini berani untuk berbuat seperti ini adalah karena adanya tekanan dari berbagai pihak khususnya sistem pendidikan kita yang mengharuskan mereka untuk berhasil dalam menjalankan ujian nasional. Tapi rasanya hal-hal seperti inilah yang membuat tidak adil jika UN tetap dijadikan sebagai indikator keberhasilan pendidikan kita.

 

Jika logika berkata

kesemrawutan pelaksanaan UN tahun ini membuat logika saya berputar tentang segala hal yang akan dan harus terjadi.

Saya beruntung mengikuti ujian nasional tahun lalu, tapi saya cukup empati pada teman-teman saya yang mengikuti UN tahun ini. Logikanya jika saya mengikuti ujian nasional tahun ini saya akan merasa tertekan, jauh lebih tertekan dari apa yang saya rasakan tahun lalu. Tapi logikanya, setertekan apapun kondisi saya, saya harus tetap mengusahakan diri untuk mengikuti ujian nasional ini dengan baik dan berhasil. Bukan karena saya pasrah, tapi lebih karena saya harus mengasah kemampuan saya. Logikanya, walaupun saya tidak suka dengan sistem ini, setidaknya saya jadikan ini sebagai ajang pembelajaran bagi saya.

Di twitter sedang gencar-gencarnya murid kelas XII yang berkoar, menumpahkan kemarahan mereka tentang sistem yang semrawut ini. Saya tidak bisa menyalahkan mereka begitu saya, logikanya kalau saya jadi mereka mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Meluapkan emosi saya tentang rasanya seperti dijadikan kelinci percobaan. Meluapkan kemarahan saya pada pendidikan Indonesia yang jauh dari kesempurnaan. Tapi logikanya, akan lebih baik saya fokus pada apa yang harus saya lakukan. Fokus pada masa depan, menjalankan ujian dengan baik. karena tidak bisa dielak, sistem tetap sistem, harus kita ikuti dan jalani. Kecuali, jika kita bisa merubah itu dengan tangan kita sendiri.

Logikanya, dengan Ujian Nasional dan segala permasalahan ini, saya berharap hal ini dijadikan Indonesia sebagai bahan untuk memperbaiki pendidikan yang semrawut seperti ini.

 Semoga. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s