Menata Mimpi.

“Kamu punya mimpi? Aku iya. Bagaimana kalau kita bermimpi bersama?”

Tingkat I kuliah. Saya mulai belajar banyak hal. Bagaimana caranya survive di tengah persaingan menuntut ilmu, bagaimana caranya mencari jati diri di kedalaman dunia yang sedikit membingungkan. Di sisi lain, saya juga belajar satu hal yang menurut saya ini paling menarik: Menata Mimpi.

Akhir-akhir ini saya lebih suka menggunakan kata mimpi daripada cita-cita walaupun beberapa orang tidak setuju dengan hal ini. Mereka berkata: “Kalau kamu mimpi, berarti kamu tidur. Jangan lupa, ini dunia nyata.”, lalu saya tersenyum.

Bagaimanapun juga, saya tetap pada apa yang saya pilih: mimpi. Sejak kecil saya memiliki cita-cita yang klasik. Saya sempat bercita-cita menjadi guru, dengan alasan persepsi tentang pekerjaan yang terlihat mudah: berdiri di depan kelas, berbicara apa yang kita tahu, menulis di papan tulis, berinteraksi dengan murid dan beristirahat. Namun, saya baru tersadarkan pada kenyataan yang sebenarnya, kenyataan bahwa ketidakmudahan akan menjadi seorang guru. Mental dan fisik, tanggung jawab yang berat, kemampuan yang luar biasa, bukan main susahnya. Dituntut menjadi seseorang yang mampu membuka jalan atas kesuksesan senyuman manis ribuan anak kecil pemilik masa depan.

Saya ingat, sempat saya tertarik pada dunia filsafat. Rasanya menjadi seorang filsuf seperti Socrates adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Belajar filsafat tidak menuntut saya untuk menjadi seorang pekerja, filsafat sepertinya akan mengajarkan saya tentang kebebasan berpikir, kebebasan merasa, kebebasan men-dunia. Tanpa batas. Namun, lagi-lagi saya disadarkan akan kenyataan yang sebenarnya. Seorang filsuf yang tidak selalu dapat diterima keberadaannya oleh sosial. Seorang filsuf yang tidak selalu dapat didengar ucapannya oleh makhluk lain sesama manusia. Saya takut, terjerembab pada dunia tanpa interaksi sosial.

Lalu, pada akhirnya saya masuk dunia pertanian. Ini bukan mimpi saya, awalnya. Tapi ini adalah dunia saya, sekarang. Kenyamanan pada hal yang menjerembab saya membuat imajinasi saya akan masa depan yang indah perlahan mulai terukir dalam dunia pikiran saya. Saya mulai dituntut untuk menentukan takdir saya di masa depan, ah bukan menentukan, lebih tepatnya menemukan. Saya mulai merasa nyaman. Saya mulai membuka mata saya akan masa depan yang harus saya rencanakan, harus saya tata, harus saya ciptakan, lalu saya rasakan. Perlahan, tapi nyata, satu persatu buih mimpi mulai memenuhi otak saya. Dari jenis mimpi yang sangat mungkin dicapai, rasanya, hingga mimpi yang sangat tidak mungkin untuk saya genggam. Namun tentu saja, saya tidak ingin menghapus mimpi-mimpi itu, sesulit apapun kemungkinan yang bisa saya realisasikan, yang pasti saya hanya sedikit belajar memfilter mimpi-mimpi itu.

Saya memfilter.

Lalu saya mencoba untuk menata.

Menata mimpi.

Mimpi saya…

Tiga tahun dari sekarang rasanya harus menjadi tahun kelulusan saya menggenggam gelar sarjana pertanian. Kata orang, lulus bukan hanya sekedar lulus. Lulus dengan predikat Cum Laude itu sangat luar biasa. Sebenarnya, saya tidak ingin terpaku pada apa yang dinamakan dengan IPK, namun saya memiliki mimpi lain yang mengharuskan saya untuk memerhatikan hal tersebut: Beasiswa S2.

Saya mengincar USAID: Scholarship international. Di USA. Tentang Agriculture. Be the next Horticulturist.

Horticulturist, someone who expert in the science of cultivating plants: fruit or flowers or vegetables or ornamental plants.

Saya ingin menjadi hortikulturis, lalu memiliki perkebunan hortikultura di salah satu daerah terindah di Indonesia. Menjadi pengelola sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi para buruh tani yang saya pikir jumlahnya akan semakin banyak di tahun tersebut. Saya ingin menumbuhkembangkan potensi Indonesia melalui aspek pertanian. Saya ingin mengembangkan komoditi hortikultura Indonesia yang kaya akan variasi spesies yang tidak ditemukan di belahan dunia lain. Saya ingin ikut serta menjadi penyokong kemajuan Indonesia. Saya ingin ikut menyadarkan penghuni Indonesia, bahwa negara ini begitu kaya dan indah. Saya ingin kita terlepas dari belenggu predikat Indonesia yang miskin.

Saya ingin membuktikan itu, dengan memperkenalkan dunia pertanian.

Saya ingin menjadi hortikulturis yang cukup. Cukup cerdas, cukup mapan, cukup berpengaruh, cukup menginspirasi, cukup memberikan apa yang harus saya berikan pada diri saya, orang lain, negara, dunia, dan Tuhan.

Menjadi hortikulturis tidak serta merta menggeluti dunia pertanian seorang diri. Saya harus mampu mentransfer ilmu saya. Saya pikir semua dari kita tahu bahwa Tuhan mewajibkan makhluknya untuk saling berbagi ilmu. Menurut saya  berbagi ilmu itu hanya bisa dilakukan dengan dua cara: Berbicara atau Menulis. Saya suka kedua-duanya, passion saya ada di dua bidang itu. Saya senang berbicara, saya senang menulis. Namun rasanya, menulis itu lebih menarik. Dalam salah satu buku yang saya baca ada kalimat yang saya suka: “Reading is hot, but writing is cool.”

Betapa indahnya ketika saya mampu mengabadikan detik dalam sebuah tulisan. Betapa bahagianya ketika saya mampu menggenggam dunia dalam tulisan yang saya ciptakan. Menjadi pencipta itu sangat menyenangkan. Pencipta kata, pencipta kalimat. Meniru pekerjaan sang Pencipta membuat saya bisa merasakan kedekatan yang luar biasa dengan-Nya. Ini sangat menyenangkan.

Saya ingin tulisan saya terukir dalam ingatan setiap pembaca yang tertarik. Saya ingin perjuangan saya terabadikan dalam sebuah tulisan nyata. Saya ingin membagi ilmu saya dalam sebuah tulisan. Saya ingin menjadi penulis. Penulis, seseorang yang meniru pekerjaan Tuhan, menciptakan sesuatu dalam sebuah tulisan.

Mimpi saya..

Suatu saat nanti ketika rambut saya mulai memutih, ketika kulit saya mulai mengeriput, ketika tulang-tulang saya mulai rapuh, ketika kantung mata saya mulai sedikit turun, ketika saya mulai tidak mampu menghitung dalam waktu yang singkat, saya ingin duduk nyaman di kursi damai salah satu sudut ruangan rumah impian saya. Melihat hasil jerih payah saya yang terhampar pada berhektar-hektar lahan perkebunan yang selalu membuat saya tersenyum. Melihat rak-rak dipenuhi oleh puluhan buku dengan pengarang yang memiliki nama yang sama dengan saya. Tersenyum lalu beristirahat.

Mimpi-mimpi saya begitu indah.

Saya harus mampu bangun untuk menggenggam mimpi saya.

Mimpi yang harus saya ubah menjadi kenyataan, mimpi yang telah susah payah saya tata.

Ini mimpi saya, ini perencanaan saya.

Saya bisa tersenyum atas semua mimpi ini.

Inilah, yang dinamakan dengan keindahan Menata mimpi.

One thought on “Menata Mimpi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s