Dokumentasi Budaya Seren Taun Cigugur 1946 Saka Sunda

Dery (21), Rhea (20), Dudin (22), Me (17), Febby (20), Reza (20)

Dery (21), Rhea (20), Dudin (22), Me (17), Febby (20), Reza (20)

Istilah seren taun terdiri dari dua kata: seren artinya serah, dan taun berarti tahun, dimaknai sebagai ritual rasa syukur masyarakat agraris desa Cigugur terhadap Tuhan YME atas rezeki yang berlimpah selama satu tahun penuh. Bukti rasa syukur tersebut diwujudkan dalam rangkaian ritual persembahan hasil panen pertanian yang dilakukan oleh seluruh kalangan masyarakat: keraton dan masyarakat biasa.

tumblr_mvm8dgcvNY1qjdp2ao1_1280

Ritual Doa bersama

Seren taun, menjadi ritual tahunan yang diadakan setiap bulan Rayagung, bulan terakhir dalam perhitungan kalender Saka Sunda, tepatnya pada tanggal 18-22 Rayagung. Terdiri dari puluhan rangkaian persembahan kebudayaan dan keagamaan yang diselenggarakan selama 5 hari berturut-turut, dari pembukaan hingga acara puncak. Diikuti oleh ribuan masyarakat yang tidak hanya sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu komponen penting dalam berlangsungnya ritual seren taun. Tahun ini, ritual seren taun  Cigugur Kuningan, digelar pada tanggal 22-26 Oktober 2013 dengan mengangkat tema besar “Berdaulat dalam Berkebudayaan, Berdikari dalam Sumber Daya Alam”.

Lises UNPAD, dalam hal ini bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), mengadakan dokumentasi budaya dengan menghadiri rangkaian acara Seren Taun 1946 Sakasunda. Tepat hadir pada satu hari menjelang acara puncak dan mengikuti acara-acara penting dalam rangkaian seren taun. Berawal dari kegiatan arak-arakan masyarakat Cigugur keliling kota Kuningan, menggunakan mobil dengan bak terbuka, delman, motor, bahkan berjalan kaki. Lengkap dengan menggunakan pakaian adat masing-masing kebudayaan yang dianut, mengarak 22 ton padi yang kemudian akan ditumbuk secara bersama keesokan harinya. Perempuan, laki-laki, pemuda, pemudi, anak kecil, kakek nenek, tak luput ikut serta dalam arak-arakan yang bertajuk Helaran Budaya ini.

Tari Badaya Pwah Aci

Tari Badaya Pwah Aci

tumblr_mvm9kov4w91qjdp2ao3_1280

Tari Buyung

Pada malam harinya, dimana merupakan malam sebelum acara puncak esok hari, digelar acara doa bersama dari berbagai penganut agama dan kepercayaan. Bertempat di gedung Paseban, tempat bersejarah yang merupakan tempat tinggal Raja Madrais dan seluruh keturunannya hingga saat ini. Dalam suasana yang khidmat, satu persatu tokoh dari masing-masing agama dan kepercayaan memimpin masyarakat untuk memanjatkan doa sesuai dengan ajaran yang dianut. Protestan, Islam, Budha, Katolik, Hindu, Budaya Batak, dan juga beberapa kepercayaan seperti Kejawen, Sunda Wiwitan, Batik Minahasan, Sasak NTB, Adat Surabaya Sukedarmo, Bonti NTT, Dayak dan sebagainya.

Pada intinya, doa lintas agama ini digelar dengan satu tujuan dan satu maksud: bersyukur kepada Tuhan YME atas rezeki yang telah diberikan satu tahun penuh, dan meminta agar rezeki tahun yang akan datang lebih baik lagi. Malam itu, tak ada lagi konflik antar agama yang gencar terdengar di media-media nasional, yang ada hanyalah kerukunan, keharmonisan, rasa toleransi agama yang tinggi di kalangan masyarakat agraris desa Cigugur Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

tumblr_mvmejwfwmn1qjdp2ao1_1280

Penumbukan padi oleh seluruh masyarakat

Keesokan harinya, merupakan acara puncak, hari yang ditunggu-tunggu bukan hanya oleh masyarakat setempat, melainkan juga oleh para wisatawan yang datang menghadiri ritual seren taun ini. Di mulai pada pukul 08.00 di depan gedung paseban, dihadiri oleh ribuan masyarakat dari berbagai kalangan. Menampilkan berbagai penampilan kesenian yang luar biasa: tari buyung, tari absari, angklung kanekes, angklung buncis, ngajayak, lalu diakhiri dengan kegiatan penumbukan padi secara bersama-sama. Padi yang telah ditumbuk ini kemudian akan dibagikan kepada seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar keraton, dan sebanyak 2 ton akan dijadikan benih untuk penanaman padi selanjutnya.

Seren Taun 1946 Saka Sunda yang digelar di Cigugur, Kuningan Jawa Barat, selalu menjadi ajang pemersatu masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan. Perbedaan agama, kepercayaan, mata pencaharian, keturunan, status, berhasil disatukan dengan rangkaian ritual kebudayaan seren taun. Tidak peduli berasal dari keturunan mana, tidak masalah menganut agama dan kepercayaan apa, dalam Seren Taun, seluruhnya menyatu, bersama-sama menggelar syukuran kepada Tuhan Yang Satu atas rahmat dan berkah yang terus dilimpahkan.

One thought on “Dokumentasi Budaya Seren Taun Cigugur 1946 Saka Sunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s