Menjadi orang Sunda di Daerah Sunda  

Akang  : bade kamana neng?

Eneng  : Ini kang, aku teh mau ke kampus. Duluan hun kang

Akang  : oh gitu, iya atuh sok kahade di jalannya.

Image


Saya orang sunda, aseli sunda, keturunan sunda, darah sunda, tinggal di daerah sunda, dan intinya sunda. Tapi sayangnya, saya tidak berbahasa sunda setiap hari, saya tidak membaca bacaan sunda setiap minggu, saya tidak berkomunikasi menggunakan bahasa sunda dengan baik. Saya orang sunda, tapi saya tidak memahami sunda.

Itu permasalahannya.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bertemu permasalahan seperti ini. Mungkin kamu, dia, mereka, orang itu, orang ini, dan….siapa saja.

Ini bukan masalah SARA tapi ini tentang identitas.

Ketika manusia terlahir dalam satu budaya, maka dia harus meninggal dalam budaya tersebut.

Kalimat itu bukan keluar dari para pujangga, atau para filosof dunia. Kalimat itu murni keluar dari pikiran saya. Terkait benar atau tidaknya, untuk sementara anggap saja benar.

Saya bisa menjamin, 95% dari umur hidup saya dihabiskan di lingkungan orang sunda. Pendidikan SD, SMP, SMA, hingga kuliah saya tekuni di kota-kota bersuku sunda: Ciamis, Kuningan, Sumedang (Jatinangor). Dinamika budaya yang saya dapatkan, seharusnya, tidak berbeda jauh. Tapi kenyataanya tidak. Di SD saya masih murni berkomunikasi menggunakan bahasa sunda, dengan rekan-rekan kelas saya, dengan guru-guru saya, dengan orang sekitar sekolah. Kami masih berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa sunda.  Di SMP, bahasa sunda saya mulai agak-sedikit-tercampur. Ketika biasanya saya berbicara, tepangkeun simkuring Riyanti, di sini saya mulai berbicara perkenalkan, nama abi Riyanti.

Bagaimana dengan SMA? Di SMA, saya sudah mengganti kata abi dengan aku. Kemanapun, kepada siapapun dan dimanapun, saya memanggil diri saya dengan sebutan aku, sesekali “saya”, sesekali. Dengan guru, dengan teman sekelas, dengan bibi-bibi kantin, dengan penjaga sekolah, saya tidak selalu berkomunikasi menggunakan bahasa sunda. Puncak krisis hilangnya bahasa sunda di keseharian saya ada pada step bangku kuliah. Terang saja, di perkuliahan saya berteman dengan orang-orang yang bukan hanya berasal dari suku sunda. Di sini saya bertemu dengan orang jawa, orang lampung, orang medan, orang padang, orang kalimantan, bahkan ya orang papua. Mereka datang dengan budayanya masing-masing, kami bertemu dengan logat komunikasi masing-masing. Alhasil bahasa sunda, semakin jarang saya gunakan.

Di luar dari cerita itu semua, saya agak yakin krisis bahasa sunda sudah dialami oleh orang-orang keturunan sunda yang tinggal di daerah sunda namun beranggapan bahwa bahasa sunda itu tidak nasionalis. Tidak ada yang salah sama sekali dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pokok komunikasi dalam keseharian. Tidak salah, karena memang benar bahasa Indonesia adalah bahasa Ibu, bahasa komunikasi nasional, yang bisa mempersatukan suku-suku di Indonesia. Tapi, yang harus direnungkan adalah apakah selalu harus meninggalkan identitas demi keseragaman?

Permasalahan ini mulai ditanggapi secara serius oleh pemerintah Jawa Barat, buktinya akhir-akhir ini saya dengar sudah ada Peraturan Daerah yang mengharuskan masyarakat full berkomunikasi dalam bahasa sunda pada hari yang telah ditentukan. Hal itu sudah diterapkan di Kota Bandung. Setiap hari Rabu warga Bandung diharuskan untuk berkomunikasi dengan bahasa sunda, taglinenya Rebo Nyunda. Penyebarannya melalui media sosial: twitter, facebook, dll. Bahkan wali kota-nya langsung yang menganjurkan aturan seperti itu. Hasilnya? Tidak mengecawakan. Di kampus (walaupun sebenarnya termasuk wilayah Sumedang), saya menemukan banyak teman-teman yang berpartisipasi dalam ketetapan kota Bandung ini. Setiap hari Rabu, banyak yang seliweran di kampus menggunakan iket kepala. Setiap hari Rabu, saya semakin banyak mendapatkan rekan yang dengan mudah diajak komunikasi menggunakan bahasa Sunda, dan itu menyenangkan.

Cukup simple sebenarnya, perda mengenai Rebo nyunda ini tidak bersifat memaksa, namun penyampaian dan publikasinya cukup menarik warga untuk ikut aktif berpartisipasi. Secara tidak langsung, masyarakat pun akan terbiasa menggunakan bahasa sunda dalam keseharian mereka. Hal ini menyadarkan saya pada teori bahwa sesuatu yang besar akan bermula dari hal yang sederhana, termasuk kegiatan membiasakan diri menggunakan bahasa sunda dalam keseharian.

Saya semakin yakin, bahwa sunda bukanlah hal yang kuno, tapi lebih dari sesuatu yang menarik.

Semoga kamu juga J

2 thoughts on “Menjadi orang Sunda di Daerah Sunda  

  1. Wah wah wah mendak ieu, penulis hebat geningan, satuju pisan kana gagasana, abdi termasuk jalmi anu seneng kana budaya sunda tur saalit-saalit diajar ngamumule basa sunda. Basa Sunda mah seueur pisan undak usukna matak enakeun kitu pami nyarios ku basa Sunda teh hehehe

    • Wah wah wah mendak ieu, penulis hebat geningan, satuju pisan kana gagasana, abdi termasuk jalmi anu seneng kana budaya sunda tur saalit-saalit diajar ngamumule basa sunda. Basa Sunda mah seueur pisan undak usukna matak enakeun kitu pami nyarios ku basa Sunda teh hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s