Saya akan rindu SBY

Tahun ini akan menjadi saksi bisunya perubahan besar di Indonesia. Mungkin, jika memang ada yang berubah. Bulan depan presiden baru akan dipilih, beberapa bulan setelahnya SBY akan dilengserkan. Berbicara mengenai SBY, sejak pertama saya tahu sosok pemimpin yang satu ini, saya memasukan nama beliau ke dalam list pemimpin yang saya idolakan. Ada beberapa alasan yang menurut saya ini menjadi point penting mengapa saya mengidolakan beliau. Namun, perlu dipahami terlebih dahulu, tulisan saya ini diluar dari pemikiran-pemikiran negatif yang sering dilontarkan kepada SBY sebagai presiden, yang tatkala keluar dari mulut-mulut masyarakat yang “dulunya” memilih beliau sebagai presiden.

Ada beberapa hal yang membuat saya menyukai sosok SBY.

Karena SBY, satu-satunya Presiden yang saya kenal sejak saya masih duduk di bangku kelas 4 SD hingga menginjak semester 5 perkuliahan.

Itu hal pertama.

Hal lainnya, karena SBY satu-satunya presiden Indonesia yang dapat membubarkan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Somebody still remember all about GAM? Beberapa tahun sebelum 2004 adalah masa kejayaannya GAM. Media gembar-gembor membicarakan GAM, di sana-sini bapak-bapak asik berdiskusi mengenai gerakan yang menurut sebagian orang menjadi gerakan pemberontak bangsa. Tapi ada yang ingat kapan GAM tenggelam? Tepat disaat terjadinya bencana Tsunami, perlahan gerakan ini mulai kehilangan beberapa pemimpinnya, anggotanya, dan komponen organisasi lainnya. Di luar itu semua, SBY gencar-gencarnya mengubah krisis menjadi peluang. Guys, mengubah krisis menjadi peluang, itu point terpenting yang harus kita pelajari. Dengan bantuan audiensi PBB dan organisasi internasional lainnya akhirnya GAM dapat diredakan segala gerakan pemberontakannya.

That’s a good point!

SBY juga menjadi satu-satunya presiden yang mengajarkan saya (secara tidak langsung) mengenai thinking out of the box. Jika teman-teman mengetahui istilah itu dari teman yang lain atau mentor atau siapapun itu, saya pertama kali mendengar istilah ajaib itu dari pidatonya bapak presiden. Masih pada masa kepresidenan periode pertama alias Kabinet Bersatu (Jilid 1), jika kita harus flashback, di tahun pertama SBY dilantik sebagai presiden, beliau harus dihadapkan dengan berbagai bencana alam yang sangat besar. Saya masih ingat betul bahwa pada saat itu sebagian besar peramal dan masyarakat Indonesia meyakini betul bahwa kepemimpinan SBY akan terus diikuti dengan berbagai bencana alam dahsyat yang menimpa Indonesia. Haha. Ramalan yang mengerikan sebenarnya. Tapi, kembali lagi pada teori thinking out of the box, jadi suatu hari pak SBY berbicara kepada para bawahannya, seperti ini kurang lebih.

“Ayo, think outside the box! Kita harus berpikir terang. Ini kan bukan perang, bukan latihan perang, bukan aliansi, bukan konflik, bukan persaingan geopolitik. Ini murni bencana alam dan tragedi kemanusiaan yang sangat buruk, dan kita sangat buruh bantuan. Pasukan negara sahabat ini datang ke Aceh beritikad baik untuk tujuan kemanusiaan menolong rakyat kita sendiri. Mereka harus kita sambut baik, dan bantuan mereka harus kita manfaatkan. Inilah hakikat nasionalisme yang sehat, bukan nasionalisme yang sempit. Percayalah, sejarah akan mencatat bahwa ini adalah keputusan yang tepat.”

Itu salah satu ucapan beliau yang sangat saya suka. Kalo teman-teman ingin tahu lebih mendalam mengenai kelanjutan kalimat-kalimat tersebut, saya sarankan teman-teman baca buku Harus Bisa! karya bapak Dino Patti Djalal. It’s very recommended, kalo berminat.

Selain itu, SBY merupakan salah satu sosok pemimpin yang cerdas. Selama saya mengikuti perjalanan beliau dengan membaca di media online, buku, dan sebagainya, maka saya tahu bahwa setiap beliau pergi keluar negeri untuk tugas kenegaraan dan di saat waktu luang tiba, satu-satunya tempat yang beliau kunjungi adalah Toko Buku. Minimal dua sampai tiga buku beliau bawa ke Indonesia. Point apa yang dapat kita pelajari? Sepintar-pintarnya kita, setinggi apapun jabatan kita, buku masih tetap menjadi jendela dunia. Presiden saja masih sering baca buku, kita?

Satu hal lagi yang menurut saya sangat interest untuk dibahas yaitu tentang kegemaran SBY pada musik dan bernyanyi. As we know, SBY sudah mengeluarkan beberapa album ciptaan beliau yang berisi lagu-lagu yang dinyanyikan sendiri atau oleh penyanyi-penyanyi Indonesia. Diluar tugasnya yang berat, bukankah itu menjadi salah satu bakat yang unik dari seorang presiden? Jika beberapa pihak mengecam atau bahkan menghina SBY yang katanya keseringan bikin lagu, saya lebih senang mengapresiasi kegemaran presiden kita. Bukankah berarti dalam menjalankan tugasnya yang sangat berat beliau masih bisa mengatasi semua itu dengan kebahagiaan yang dituangkan dalam sebuah lagu? Ini sisi santai dari SBY, dan saya suka.

Hal terakhir yang saya suka adalah bahwa SBY menjadi sosok yang disegani oleh pemimpin-pemimpin negara lainnya. Alasannya? Beliau friendly, beliau cerdas, beliau loyal, dan yang paling penting beliau sangat menghargai waktu. Jadi, saya pernah baca tulisan mengenai betapa tepat waktunya SBY pada saat acara internasional KTT OKI diselenggarakan di Senegal. Ceritanya konferensi itu dijadwalkan dimulai pada pukul 9 pagi. Sejak pukul 08.45 beliau bersama menteri Agama waktu itu sudah stand by di ruangan konferensi, dan yang uniknya tidak ada satu orang pun panitia yang sudah persiapan atau bahkan menyambut beliau, jangankan pemimpin negara lain, office boy pun masih sibuk beres-beres. Dengan santainya SBY menunggu sambil membaca koran di tempat yang telah disediakan khusus untuk pemimpin Indonesia. Beliau menunggu hingga satu persatu pemimpin negara lain masuk ke ruangan, dan KTT OKI baru dimulai pada pukul 10.30, satu jam setengah sejak beliau menunggu.

Cerita sederhana yang mungkin sebagian orang pernah mengalaminya. Tapi bukankah sebagai pemimpin negara, kedisiplinan tentang waktu menjadi salah satu point yang sangat mudah tergoyahkan?

Itu baru beberapa point yang saya suka dari sosok SBY sebagai presiden ataupun bukan. Saya pahami bahwa kepemimpinan beliau di periode Kabinet Bersatu jilid 2 memang nampak menurun. Dengan seringnya beliau mengoceh tentang perasaan di pidato kenegaraan atau seringnya menyinggung politik pribadi di ruang publik, tapi saya yakin itu semua menunjukkan beban yang dipikul semakin berat sebagai presiden.

Sama beratnya seiring menghitamnya kantung mata beliau.

Tapi, ayolah. Sekali saja berpikir positif dan tidak menjudge keburukan-keburukan sosok yang hampir selama 10 tahun menjadi nahkoda kapal bangsa kita, menghadapi berbagai krisis dunia, dan sekuat tenaga mempertahankan badan kapal agar tidak tergoyahkan sama sekali.

Sekali saja, kita apresiasi sosok yang menjadi presiden “pilihan” kita.

Sekali saja, kita apresiasi bapak yang sangat tangguh ini.

Ah come on! People just changed, and moving on.

Karena beliau juga manusia biasa….

Saya yakin, jika kakek saya rindu pada Soekarno, mungkin saya akan lebih rindu pada Susilo Bambang Yudhoyono.

 

oh iya, ini ada salah satu sketsa ilustrasi saya tentang sosok SBY. Dikit-dikit mirip lah yaa..

Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono

One thought on “Saya akan rindu SBY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s