Dalam Diam

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan “surat cinta” dari seseorang yang belum lama saya kenal. Beberapa menit yang lalu saya mendapatkan “puisi cinta” dari seseorang yang juga saya tidak tahu siapa. Bisa jadi orangnya berbeda, atau mungkin sama. Tapi yang pasti semua berisi tentang luapan kekaguman manusia terhadap manusia. Sepanjang kurang lebih 65 menit lamanya saya mencoba untuk merenung tanpa disengaja, takutnya berlebihan dan menjadi lamunan kosong yang tidak bermanfaat.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya sedikit menghindar dari sebuah fenomena bernama “cinta”. Mencoba untuk tidak terlalu mendalami, lebih tepatnya. Diluar dari pantas atau tidak pantasnya membicarakan cinta (kepada manusia), saya pernah mendapatkan perasaan itu beberapa kali. Bukankah mudah sekali manusia jatuh cinta pada sesamanya? Di tahun 2011, saya pernah merasakan jatuh cinta yang sangat mendalam kepada seseorang yang juga sekaligus membuat saya merasakan sakit hati yang jauh lebih mendalam. Sebagian besar orang menganggap ini bukan hal yang terlalu penting, toh masih cinta-cintaan anak SMA, tapi tidak disangka ternyata masa-masa itu adalah masa yang benar-benar bisa merubah sikap seorang gadis remaja.

Di tahun yang sama, saya juga menemukan seseorang yang luar biasa hebat dan lebih dari cukup untuk bisa saya kagumi. Secara pandangan manusia, dia mendekati sempurna. Akhlaknya, imannya, prestasinya, seringainya. Di umurnya yang masih muda (beberapa tahun lebih tua dari saya) dia sudah menapaki jalan hidup yang jauh lebih tinggi dari saya.

Betapa Allah Maha Membolak-balikkan Hati hambanya, pada waktu itu saya benar-benar merasakan sakit hati yang luar biasa (yang mungkin menurut saya sekarang itu sangat konyol untuk dirasakan) tapi di tahun yang sama saya kembali dapat mengagumi seseorang yang jauh lebih layak untuk saya kagumi, hingga saat ini.

Lalu apa benang merahnya? Manusia pada dasarnya tak luput dari yang dinamakan cinta kepada lawan jenis. Semenjak itu, saya mulai banyak belajar dari orang yang saya kagumi ini. Banyak hal yang bisa saya pelajari, secara diam-diam. Termasuk dalam sikap yang seperti apa yang layak ditunjukkan dalam menanggapi perasaan cinta. Termasuk “cinta dalam diam”.

Satu hal yang saya pelajari, bahwa “cinta dalam diam” adalah suatu hal yang sangat berharga.
Menjaga perasaan agar tidak terlalu berlebihan dalam mencinta adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Lebih berharap Allah yang membalas rasa cinta daripada seseorang itu sendiri adalah hal yang sangat mulia.
Cinta dalam diam, memiliki makna yang lebih dalam.
Karena cinta dalam diam, bukti rasa hormat kita pada Pencipta, dan yang diciptakan-Nya.
Semoga kita semua bertemu dengan jodoh yang kita inginkan bersama-sama.

2 thoughts on “Dalam Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s