Menyelami Alam

Pagi itu, riyuh rendah deburan ombak membangunkan setiap karang yang terdampar. Mentari mulai menampakkan diri dengan wajah yang semu keoranyean. Desahan angin tak lagi mampu ditahan oleh helai demi helai daun pohon jambu di salah satu sudut pesisir pantai. Menggerakkannya, ke kanan dan ke kiri. Menjatuhkan satu persatu helai daun hingga luruh perlahan ke atas permukaan bumi. Walau begitu, pernahkan sekali saja daun yang jatuh membenci angin?
Cicit burung kenari mulai terdengar di berbagai sudut desa yang terletak di pesisir pantai. Menjadi musik pengiring segala kesibukkan orang-orang desa pagi ini. Bapak-bapak tua mengerahkan semua tenaga untuk memindahkan satu demi satu perahu menuju bibir pantai. Mereka siap melaut. Kali ini bukan untuk mencari ikan, ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan.

Ibu-ibu paruh baya menyibukkan diri dengan pekerjaan yang dilakukan di garasi mobil sederhana milik salah satu warga setempat yang disulap menjadi dapur dadakan. Semerbak wewangian bumbu masakan tercium hingga radius 25 meter. Angin memang menjadi salah satu jasa pengantar yang sangat baik. Berbagai jenis sayuran segar siap untuk diubah menjadi makanan yang lezat, puluhan ekor ikan laut yang berukuran jumbo telah mantap berjejer di sebuah nampan berukuran jauh lebih besar. Hari ini spesial. Semua orang akan makan besar.
Di sudut desa lain, nampak sebuah aula sederhana dengan atap anyaman bambu dan beralaskan lantai berwarna hitam legam, duduk seorang kakek tua yang juga sedang sibuk dengan sebuah keranda berukuran sedang di hadapannya. Keranda ini, warga desa menyebutnya sebagai dongdang. Keranda yang dibuat oleh warga setempat khusus untuk perayaan tahunan yang beberapa saat lagi akan dimulai. Keranda yang menjadi tumpuan pengharapan para nelayan. Keranda yang sederhana, kerangkanya terbuat dari bambu, bangunannya dibentuk dari styrofoam berwarna putih.

Kakek tua itu sibuk berkomat-kamit, membacakan jampi-jampi yang tak semua orang dapat mengerti. Sementara tangannya sibuk membungkus satu set pakaian wanita berwarna hijau tua, dia masukkan ke dalam plastik transparan, lalu ia simpan ke dalam ruangan kecil dalam dongdang melalui lubang yang sengaja dibuat sebelumnya. Selanjutnya, ia masukkan pula beberapa perlengkapan kecantikan wanita, lengkap, tak ada yang terlewat sedikitpun. Ia menunjukkan mimik wajah yang serius. Sudah hampir 30 menit kakek tua ini berada di tempat tersebut. Melakukan sesuatu yang warga lain sebut itu sebagai ritual yang sakral. Salah satu yang sakral dari beberapa lainnya.
Tak ada yang berani membuyarkan konsentrasi kakek tua itu dalam melakukan tugasnya sebagai kuncen. Bahkan hanya untuk sekedar menyuguhkan kopi saja, salah seorang ibu bersedia menunggu hingga semua ritual selesai dilakukan. Barulah ia menghampiri kakek tua itu. Tanpa sepatah katapun, hanya senyum datar.

Semua orang sibuk pagi ini. Tak ada yang ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut andil dalam perayaan sakral tahunan itu, yang setiap tahun mereka rayakan, yang setiap tahun dijadikan sebagai pengharapan. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak kecil, kakek tua, semuanya.
Namun, satu hal yang nampak sangat ganjil. Ada satu anak muda yang semenjak sore kemarin tidak menunjukkan ketertarikannya akan semua gairah warga lainnya dalam mempersiapkan pesta ini. Pemuda ini sedari subuh tadi berdiam diri di salah satu perahu yang juga disiapkan untuk melaut pagi nanti. Pemuda yang tatapannya kosong, menatap langit dan laut lepas yang sekilas seperti cermin dengan objek yang sama. Ia termenung.

Untuk apa…?”, ia bertanya dalam hatinya.

Sudah sekitar sepuluh menit sejak kakek tua itu berdiri terpaku di samping anak muda tadi. Barulah lamunannya tersadar ketika kakek itu berbicara padanya.
“Apa yang kau pikirkan? Tidakkah kau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat?” suaranya terlalu parau, separau umurnya yang bahkan ia sendiri tak mampu mengingatnya.
Masih dengan tatapan kosong yang sama, anak muda itu menjawab.
“Seperti apa, kek? Ikut berkomat-kamit seperti apa yang kau lakukan, tadi?” Anak muda itu masih dalam posisi duduk semula. Tak berubah, sama seperti raut wajahnya yang penuh…kegelisahan.
Kakek tua tersenyum manis, ia lemparkan tatapannya yang sudah tak tajam ke laut lepas yang ada di hadapan mereka. Angin berhembus cukup kencang, membuat rambutnya yang berwarna putih terkoyak-koyak tak beraturan. Lalu tatapannya ia alihkan ke langit biru yang membentang luas di atas laut lepas. Ia berkata,
“Apa yang kau pikirkan, anak muda? Kau gelisah?” kali ini kakek tua itu menatap semu pada sosok yang ada di sampingnya. Anak muda dengan rambut hitam keemasan, bola mata yang tajam, kulit cokelat yang matang, badan yang kekar dengan otot lengannya yang nampak menonjol, tidak sebanding dengan raut mukanya yang penuh kebingungan.
Anak muda itu mulai berkata, dengan sedikit terbata-bata.
“Siapa yang ada di laut? Maksudku mengapa kita harus tetap memberikan persembahan ini?” Pertanyaan ini memerlukan waktu dan tenaga yang lebih untuk mampu ia lontarkan kepada kakek tua itu. Ia tahu, bahwa bisa jadi pertanyaan awal ini akan membuat ia dicaci maki seharian oleh seseorang yang selama ini disebut kuncen oleh warga setempat. Seseorang yang memiliki kepercayaan penuh dari nelayan-nelayan di sekitar tempat itu. Seseorang yang setia membimbing perayaan ini dari tahun ke tahun. Seseorang yang sangat berpengaruh…
Kakek tua itu tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari laut dan langit lepas di depannya. Ia menghela nafas dalam-dalam, lalu kemudian berkata.
“Menurutmu?”
Anak muda tadi sontak kebingungan, ia nampak tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang muncul di raut wajahnya yang mungkin telah mengganggunya sejak beberapa hari yang lalu. Ia mencoba untuk rileks, menghalau setiap kegelisahan yang bahkan ia sendiri tak tahu penyebabnya.

Ia beranjak berdiri dan turun dari perahu, kali ini berdiri tegap di samping kakek tua yang badannya sudah mulai membungkuk. Lalu ia menjawab, “Hanya ada ikan-ikan, yang mungil sampai yang berukuran lebih besar 100 kali lipat dari kita, mungkin bisa menelanku bulat-bulat.” Sebelum anak muda itu selesai berbicara, sang kakek menatapnya dengan penuh seksama.
“Ada lagi?”, ucapnya pada anak muda itu. “Mungkin, hanya ada rumput yang tumbuh di laut dan bebatuan yang semakin hari semakin terkikis. Apa lagi?”
“Hanya itu saja?” tanya kakek tua.
“Lagipula, siapa yang pernah terbesit di pikirannya untuk tinggal di tempat berair nan asin seperti itu. Bahkan burung terbang pun tak ingin sama sekali terbasahi kakinya oleh air laut.” Jelas pemuda itu. Kali ini kepercayaan dirinya sedikit kembali.
“Tak pernah berpikir di sana ada istana megah?” tanya kakek kembali.
“Didalam laut? Di tengah air seperti itu?” jawaban pemuda ini terdengar penuh dengan ketidakpercayaan.
Kakek tua menganggukan kepalanya, ya benar.
“Hahaha, kau becanda. Siapa pula yang akan membangun istana di bawah laut? Buang-buang uang dan tenaga saja. Aku pikir itu akan menjadi perbuatan yang sia-sia, kek.”
“Kau tak ingin punya istana di bawah sana?” ia masih dengan raut wajah yang sama. Bijaksana.
“Aku? Istana di sana?” pem,uda itu menoleh dengan ekspresi yang tak percaya. “Sampai kapanpun tidak! Kecuali jika yang kau maksud adalah istana bangkai perahu Titanic. Itu pun entah di bagian laut lepas yang mana, yang pasti bukan di laut kecil tepat di depan mata kita.”
“Kau tak pernah mau mengerti, anak muda.” Kakek tua menggaruk keningnya yang terasa gatal.
“Mengerti apa, kek?” kali ini ia benar-benar telah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. “Aku selalu dibuat bingung oleh apa yang dilakukan warga di sini. Setiap tahun mereka melakukan hal janggal seperti ini. Menyembelih kambing, membuat sesajen, membuat keranda yang dihias dengan hiasan-hiasan seperti acara Agustusan, membuat keramaian, lalu membuang keranda beserta isi-isinya begitu saja kelaut lepas. Semua! Semua yang mereka persiapkan, semua yang kau juga persiapkan, yang mereka hias dengan indah, barang-barang yang dibeli dengan biaya yang cukup mahal. Begitu saja dibuang ke laut. Untuk siapa?! Ah sering aku bertanya sebenarnya ini untuk siapa. Semua tetua sama saja jawabannya. Siapa ratu itu? Ratu yang kau dan mereka sebut sebagai penghuni laut lepas ini? Siapa namanya?! Ah ya, Roro Kidul. Siapa dia sebenarnya? Bahkan tak ada yang mampu menjawab!”

Anak muda menghentikan ucapannya, ia tersengal. Suaranya meninggi dan ia tahu itu tidak baik. Ada gejolak emosi yang mulai muncul di jiwanya, yang selama ini mendekam dan baru kali ini ia mampu meluapkan semuanya.
“Aku hanya ingin kejelasan, kek. Aku anak muda yang menurutmu tidak akan pernah mengerti. Usiaku sudah menginjak 21 tahun, semua orang tahu aku telah cukup dewasa. Tapi ini semua, bagaimana bisa aku mengerti jika tak ada yang membiarkan aku mengerti, membuat aku paham?”
Anak muda itu melangkahkan kakinya kedepan, mencoba untuk menjaga jarak. Ia tak ingin terlihat terlalu menggebu emosinya. Kakek tua hanya berdiri terpaku, dengan seksama mendengarkan satu per satu kata yang keluar dari mulut sosok yang berada di depannya. Mimik wajahnya masih tak berubah, ia masih nampak bijak walaupun kulit keriputnya nampak di seluruh wajahnya..
“Aku hanya ingin memahami ini, kek.” Lanjut anak muda itu. “Aku ingin menyelami dunia yang menurutmu tak pantas untuk aku selami. Tapi kita masih hidup bersama. Aku harus paham apa yang kau dan mereka kerjakan, begitu juga dengan kalian yang setiap hari harus tahu tentang apa yang aku lakukan, yang aku miliki, yang aku pakai.” Ia terhenti sejenak “Sekolah, teknologi, kecanggihan modernisasi, dunia yang penuh dengan kenyataan dari imajinasi.”

Deburan ombak yang meninggi menjadi jeda perbincangan yang paling hangat pagi itu. Mereka seolah-olah hanya berdua dan larut dalam perbincangan yang sunyi.
Anak muda itu menghela nafas, lalu dengan suara lembut ia berkata “Aku hanya ingin menyelami semua ini dengan logika, aku ingin mengajak kau dan mereka berpikir dengan logis.” Mendengar ucapan ini, kakek tua itu memegang pundak anak muda lalu berkata.
“Kau pikir, kami tidak melakukan ini dengan logika kami, nak?” mereka saling menatap satu sama lainnya. Anak muda
“Bukan.. … Bukan itu maksudku. Tapi… kau seharusnya mampu menjelaskan arti ini semua padaku, kek. Jika saja.. maksudku jika memang apa yang kita kerjakan selama ini tidak..”
“Tidak menyimpang dari ajaran agama?” Kakek tua menyela ucapan anak muda yang terbata-bata itu, seolah-olah tak ada lagi yang dapat ia ucapkan. “Itu maksudmu?” ia kembali menatap laut lepas yang biru, tampak mentari yang keoranyean menampakkan diri dari salah satu sudut garis lurus di depannya. Indah.
“Anak muda, dengarlah..” suaranya mash parau. “Pernahkah terbesit dalam pikiranmu bagaimana jadinya jika laut meluapkan seluruh isinya ke daratan? Seluruh air tanpa terkecuali?” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Semua bangunan yang menjulang itu akan habis, masjid megah nan indah di sana akan diporak-porandakan, rumah yang paling mewah pun aku yakin tak akan mampu berdiri tegak. Tumbuhan paling kokoh dan berumur ribuan tahun saja mungkin akan kewalahan menghadapi bah itu. Kita akan hancur, nak. Dengan sebutan apa mereka menyebutnya? Tsunami… ya Tsunami.” Kakek tua itu menunduk, anak muda hanya terpaku menunggu kelanjutan kata-kata yang akan dikeluarkan olehnya. Ia ikut termenung.
“Bayangkan nak! Jika laut dan isinya benar-benar marah pada kita. Tak hanya mereka yang akan meluapkan emosi, seluruh isi jagat raya juga akan marah pada kita. Menumpahkan segala isinya untuk ikut menghancurkan manusia. Laut adalah segalanya! Di dalamnya ada sumber kehidupan. Setiap makhluk membutuhkan itu, nak. Kau juga! Laut bukan hanya sekadar ruang yang berisi penuh air. Air bukan hanya sebatas air. Ini lebih dari itu. Mereka nyata, mereka hidup bersama kita, mereka ada, dan haruskah kita lupa diri?”.
Anak muda itu masih terpaku, termenung lama…
“Kau lihat, dunia sudah semakin maju. Bahkan mungkin kau juga merasakan itu, kecanggihannya. Percayalah, aku sudah terlalu tua untuk ikut bersenang-senang dengan semua ini.”
“Tapi, dengarkan. Bukan teknologi yang aku permasalahkan, bukan kecanggihan modernisasi yang aku khawatirkan, nak. Aku dan kakek-kakek tua itu, yang semuanya disibukkan dengan perahu-perahu tua, hanya khawatir dengan semua perlakuan manusia yang semakin tak karuan. Tak tahu diri. Mengeruk keuntungan dari alam, tanpa sekalipun berterimakasih padanya. Menggali harta karun yang sangat berharga dan berlimpah dari alam, tanpa sekalipun mereka memperlakukannya dengan baik. Manusia semakin menjadi-jadi. Serakah! Sombong! Angkuh! Seolah-olah hidup di dunia adalah kekal abadi. Padahal tidak, nak! Kita di sini tidak hidup sendiri. Tuhan tidak menciptakan manusia menjadi satu-satunya makhluk di dunia ini. Tuhan selalu mengingatkan kita, tapi kita selalu melupakan itu setiap saat.”

Anak muda itu menolehkan kepalanya ke sudut lain pantai, ia temukan segerombolah laki-laki paruh baya yang sedang bersiap diri di perahu untuk melaut. Hening, cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian, kakek tua melanjutkan ucapannya.
“Harus ada yang kita lakukan, nak. Harus! Untuk mereda kemarahan alam pada kita. Untuk menunjukkan bahwa kita memerlukan alam, harus ada yang kita lakukan untuk mengagungkannya, sebagai sesama makhluk Tuhan.” Ia terhenti sejenak. Angin sepoy beriringan dengan suara deburan ombak yang meninggi.
“Kita jangan menjadi makhluk tak tahu diri, nak. Bagiku, bagimu, dan bagi kita semua di sini yang setiap hari berkelut dengan laut, dengan ikan, dan dengan deburan ombak itu. Laut menjadi yang paling utama untuk kita perlakukan dengan baik. Tasyakur ini, hajat laut ini, dengan persembahan ini, salah satu cara kita mengucap terimakasih pada mereka.”
Segerombol bapak-bapak terlihat mendekat perahu di samping kakek tua dan anak muda itu berada. Mereka membawa keranda yang sejak tadi telah siap dihanyutkan.
“Semoga kau bisa paham, nak. Ini bukan cara kita untuk menyekutukan Tuhan. Sama sekali bukan. Bahkan ini semua cara kita bersyukur pada Tuhan, melalui laut ini.”
Kali ini kakek tua menatap dalam-dalam mata sang anak muda. Memerlukan renungan yang cukup lama untuk akhirnya ia berkata.
“Aku paham….” ia bersuara dengan sangat pelan. “Lalu, siapa Roro Kidul itu….?”
Kakek tua menoleh pada bapak-bapak yang membawa keranda itu, lalu tersenyum. Kemudian ia kembali menoleh pada anak muda itu dan juga tersenyum.
“Kau pernah tahu legenda? Cerita tua yang mungkin benar terjadi, mungkin juga tidak. Roro kidul, salah satu dari cerita itu. Ia dan laut. Tak dapat terpisahkan. Sejak mungkin buyutku hingga cucuku sama-sama hidup di alam ini. Ia selalu ada di laut. Walau mungkin beratus-ratus tahun yang lalu ia sudah mati, meninggalkan alam ini. Raganya mungkin sudah tidak ada, tapi jiwanya ada di sana, nak. Di laut itu…” dengan telunjuk tangannya ia menunjuk laut lepas itu.
Seorang bapak yang tadi membawa keranda, menghampiri mereka berdua dengan nafas yang tersengal-sengal. “Kita sudah siap, kek! Bisakah kita mulai?” ujarnya.
Kakek tua memberi isyarat dengan anggukan kecil, lalu ia tersenyum pada anak muda itu dan berkata “Jangan pernah menjadi musuh alam, nak.” Ia beranjak pergi dan menghampiri perahu dengan keranda yang sudah siap itu. Menghampiri segerombolan nelayan yang sudah siap mengikuti ritual hajat laut.
“Baiklah, kita mulai.” Ujarnya pada orang-orang tersebut.

Anak muda itu masih termenung, akhirnya ia temukan kejelasan yang selama ini mengganggu pikirannya. Pagi itu, ia berhasil menghalau kegelisahan yang telah terbenam dalam waktu yang cukup lama di benaknya. Kebingungan yang terbesit dalam pikirannya. Kemarahan akan ketidaktahuan yang ia rasakan. Ia telah berhasil melepas itu semua.
Namun, satu hal yang kali ini ia bingungkan. Harus berbuat apa ia setelah ini?
“Hei, anak muda!” teriak seorang bapak dari perahu yang berisi keranda. Lama sekali anak muda itu termenung, sampai ia tak sadar bibir pantai sudah penuh dengan orang-orang, dan 7 perahu tua sudah siap melaut. “Sedang menunggu apa lagi? Cepat kau naik perahu ini. sudah waktunya kita melarung dongdang! Sudah waktunya kita menyelami alam! Alam akan merindukan sosok muda sepertimu! Cepatlah”

Menyelami alam, itu yang harus dilakukan oleh pemuda ini. Ia tersadar dan berlari menaiki salah satu perahu tua.
Alam. Bersyukur pada Tuhan melalui Alam. Ia yakin dan tersenyum. Lalu dengan aba-aba sang kakek tua satu persatu perahu mulai melaut, melakukan ritual hajat laut. Menyelami alam, bukti rasa syukur nelayan pesisir pantai.

2 thoughts on “Menyelami Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s