Gadis yang pergi

“Aku rindu gadis itu…”

Samurah bergumam pada dirinya sendiri.

“Kau rindu siapa?” Rafi’ mencoba untuk memastikan bahwa ia tak mendengar sebuah nama dalam gumaman Samurah. Pertanyaan Rafi’ membuat Samurah tersentak dari lamunan, ia tak sadar dengan apa yang telah diucapkan.

“A.. aku.. ah sudahlah. Aku hanya bergumam.” Samurah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, ia dekatkan pada api unggun, menghalau dingin yang menyerang. Rafi’ mengambil sebatang kayu dan melemparnya ke dalam api yang perlahan mulai memancarkan cahaya kemerahan. Lalu berkata,

“Gumaman tak akan berarti apa-apa jika kau hanya membiarkan itu menjadi sebatas gumaman..”

Samurah termenung, ia setuju. Namun saat ini ia tak bisa melepas bayang-bayang ingatan yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Gadis berambut merah keemasan, duduk manis di salah satu sudut taman kota. Selalu sibuk dengan sebuah buku tua berjilid lapisan kertas tua hijau yang nampak sudah lusuh, bahkan dari kejauhan pun dapat terlihat helai demi helai kertasnya telah berwarna cokelat usang dimakan waktu. Gadis berambut merah yang hampir satu tahun lamanya selalu ia perhatikan. Samurah hanya mampu memperhatikan gadis itu dari sudut lain taman kota itu. Tak berani mendekat, tak punya cukup keberanian.

Angin berhembus panjang.

Malam semakin larut. Dingin semakin menusuk tulang ringkih kedua pemuda yang memutuskan untuk pergi merenung di atas bukit belakang pedesaan. Samurah dan Rafi’.

“Apa aku pernah bercerita padamu, tentang gadis berambut merah?” Samurah merebahkan tubuhnya di atas tikar bambu yang sengaja dibawa untuk malam ini. Tatapan kosongnya ia lemparkan pada langit yang penuh dengan bintang dan bayang-bayang bulan yang berbentuk setengah.

Rafi’ berpikir sejenak, mencoba mengingat setiap kisah yang Samurah ceritakan padanya. “Aku rasa belum pernah. Siapa itu, Gadis berambut merah katamu?”

Samurah menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia berkata.

“Gadis berambut merah keemasan, yang selalu aku temui di taman kota setiap hari Rabu. Ah bukan, bukan aku temui maksudku, hanya aku perhatikan. Karena bagaimanapun juga, aku tak pernah punya nyali yang cukup untuk sekedar menyapa dan menanyakan siapa namanya..” ia berhenti sejenak. Kedua bola matanya menjelajahi langit malam, menemukan rasi-rasi bintang yang ia kenali. “Gadis berambut merah keemasan, yang setiap Rabu sore duduk tenang di salah satu kursi taman. Sendiri. Setiap hari Rabu sore, di taman kota yang sama, di tempat duduk yang sama, dengan buku yang sama, dan wajah cantik nan ayu yang sama. Ia terus membaca, sangat larut dalam bacaannya. Sesekali ia tonggakkan wajahnya untuk memperhatikan sekeliling, lalu setelah itu ia sibuk dengan bukunya.”

Samurah menutup kedua matanya, mencoba untuk mendalami bayang-bayang ingatan tentang gadis itu.

“Biar ku tebak, tentu saja kau tertarik padanya?”, tanya Rafi’.

Samurah terus melarutkan dirinya dalam bayangan itu, ia semakin jelas melihat sosok gadis berambut merah dalam ingatannya. Kecantikan wajahnya, kelembutan nafasnya. Jelas sekali nampak pada alam ingatannya. Samurah tersenyum.

“Percayalah, ini lebih dari itu Rafi’. Aku bahkan lebih dari hanya sebatas tertarik padanya.” Samurah bangkit dan kemudian duduk dengan mendekap kedua lututnya. Tatapannya kosong. “Aku rasa, aku telah jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada sosoknya yang bahkan aku tak pernah tahu siapa ia sebenarnya. Yang aku tahu, ia gadis berambut merah dengan kelembutan aura, kehangatan jiwa, dan keindahan raga. Sebatas itu..”

Rafi’ kali ini menatap tajam pada Samurah, bagaimana mungkin Samurah mencintai seseorang yang bahkan ia tak pernah tahu persis sosoknya?

“Jatuh cinta membuat semua orang tergila-gila, tapi kau malah sebaliknya. Wajah kusutmu tak mewakili perasaan yang kau miliki itu, Samurah.” Sosok Rafi’ selalu benar, menurut Samurah. Ia selalu bisa menebak apa yang orang lain rasakan, termasuk Samurah.

“Aku tak pernah sekalipun berniat untuk mendalami perasaanku. Aku hanya mengikuti rasa penasaranku pada gadis berambut merah itu. Sejak Rabu sore pertama aku temukan dia di sudut taman kota, ia dengan dress bunga-bunga berwarna nila, rambut yang tergerai panjang hingga sepinggangnya, dan buku tebal yang tua di tangannya, aku mulai menyimpan rasa ketertarikanku pada gadis itu. Esok harinya, aku beranjak pergi ke taman kota lagi. Berharap kutemukan sosok gadis berambut merah keemasan yang sama. Tapi tak kutemui. Begitupun hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Nihil. Hingga aku bertemu pada hari Rabu sore di minggu kedua. Ia datang lagi, dengan dress bunga-bunga yang sama, kali ini berwarna abu-abu. Rambut merah keemasannya masih mengesankan. Buku tuanya masih ia bawa. Ia duduk dengan kelembutan aura disekelilingnya. Aku bisa merasakan itu…” Samurah berusaha untuk membawa Rafi’ merasakan yang ia rasakan. “Sejak saat itu, aku tahu persis mengapa aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di taman kota setiap Rabu sore dan duduk memperhatikan gadis itu.”

Samurah terdiam. Ia hanyut dalam kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Rafi’ tersenyum dan seketika berkata..

“Lalu?”, ucapnya.

Samurah menatap pada Rafi’. Terlihat air mata menggenangi kedua bola matanya, bukan menangis, ia hanya merasakan sesak dalam dadanya.

“Lalu… lalu… lalu di minggu ke empat puluh dua, aku tak menemukan ia berada di sana lagi. Aku pikir mungkin ia tak memiliki waktu cukup untuk pergi ke taman kota. Aku datang lagi di minggu selanjutnya, ia tak kunjung datang juga. Hingga akhirnya, tepat satu tahun perhitunganku, yang seharusnya menjadi pertemuanku ke lima puluh satu kali dengannya, sosoknya tak pernah muncul.” Samurah terhenti, ia menarik nafas dalam-dalam, ada rasa sesak menyerang sekujur tubuhnya. “Hingga saat ini, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan aku tak pernah merasakan begitu kehilangan seperti yang aku rasakan sekarang.” Bibirnya bergetar. Tangannya begitu lemas. Samurah benar-benar lemah. Lemah akan perasaan yang ada di dalam hatinya.

“Ia terlalu indah, Rafi’. Aku tak pernah mampu untuk sekedar mengucap kata “Hi” untuknya. Menatap matanya pun terkadang tak mampu untuk aku lakukan. Ia begitu sempurna. Saat sekali waktu ia melempar tatapannya padaku, wajahnya bercahaya. Ia tersenyum kecil, bahkan aku tidak berbuat apapun.” Suara Samurah ikut bergetar, semakin parau.

“Aku tak pernah menyesali apapun selain tak ada alasan untukku membuka pembicaraan dengannya. Tak ada yang pernah aku sesali selain tidak sempat mengenal namanya. Ia beranjak dari tempat duduknya, dan aku tak mampu melepas suaraku yang tersendat di kerongkongan. Ia mulai berjalan, dan aku tak mampu membangunkan tubuhku untuk menghampirinya. Dan ia mulai hilang di persimpangan, bahkan aku tak mampu untuk melambaikan tanganku untuk menahannya. Ia pergi, bahkan aku masih terpaku duduk di tempat yang sama. Yang kulihat hanya bayangannya, yang kurasa hanya wangi tubuhnya…” Ia terdiam sejenak,

“Dan saat ini, aku membiarkan diriku terbelenggu dalam perasaan yang menyengsarakanku. Perasaan yang bahkan aku sendiri yang membiarkan ia tetap tumbuh tanpa mampu aku luapkan. Ini suatu kehilangan, Rafi’. Kehilangan yang seharusnya tak pernah aku rasakan, jika saat itu aku mampu beranjak dari tempat dudukku, menghampirinya, mengulurkan tanganku dan berjabat tangan dengannya. Kehilangan ini seharusnya tak pernah aku rasakan, jika saat itu aku mampu untuk membalas tatapan dan senyuman manisnya. Bahkan Rafi’ kehilangan ini seharusnya tak pernah aku rasakan, jika saja aku mampu berdiri, lalu berlari menghentikan sosoknya yang mulai menjauh dari taman kota. Tapi itu semua, jika saja, aku melakukannya…..”

Rafi’ yang sekian lamanya terpaku mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Samurah, akhirnya berucap.

“Samurah, jantung hati tak pernah membiarkan tuannya merasakan cinta jika tuannya tak mengizinkan. Jantung hati tak pernah membiarkan tuannya merasakan sakit jika tuannya tak mengizinkan. Bahkan jantung hati tak pernah membiarkan tuannya jatuh jika ia tak diizinkan oleh tuannya. Gadis berambut merah keemasan itu dan hatimu, bukan salah mereka jika engkau sengsara atas perasaanmu. Namun, ini juga bukan kesalahanmu jika engkau tak membiarkan dirimu meratapi perasaan itu. Biarkan itu mengalir seperti air di lembah sungai terdalam. Biarkan itu mengalun seperti alunan simfoni musik yang terdengar indah di hutan kelam. Ini tidak sesakit itu….”

Rafi’ terhenti..

“Ini tidak akan pernah sesakit itu.. engkau masih punya harapan. Engkau masih bisa berharap, pada Siapa yang memilikinya. Samurah, percayalah pada takdir bahwa suatu saat nanti, Tuhan akan mempertemukanmu lagi dengannya… atau mungkin tidak sama sekali. Percayalah itu Samurah. Karena ini semua anugerah Tuhan atas perasaan yang ia berikan padamu. Percayalah…”

Angin berhembus semakin kencang, langit malam semakin kelam. Larut, semakin larut. Unggun, terus menari. Rasa cinta tak pernah padam, sekalipun pada gadis yang telah pergi.

 

Jatinangor, 18 Juli 2014

One thought on “Gadis yang pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s