Kebakaran Jenggot

Pilpres sudah berakhir. Presiden baru sudah didapatkan. Jokowi menang telak. PDIP dan rengrengan berpesta ria. Tim sukses cukur gundul rambut mereka. Anggota KPU bisa tidur selonjoran, setelah berbulan-bulan begadang dan mungkin tak tidur nyenyak. SBY semakin gerak cepat sebelum dilengserkan. Media sosial mulai penuh dengan ucapan selamat. Eh makian juga masih ada kok. Wajar, yang penting tak berlebihan.

Malam tadi saya tidak sepenuhnya menonton pak Husni Kamil Manik (Ketua KPU) “bercerita” hasil rekapitulasi di sidang pleno. Kondisi badan saya sedang tidak fit, setelah sebelumnya jungkir balik semalaman di Gor Jati kampus dan akhirnya memutuskan untuk tidur cepat hehehehe. Tapi, pada saat Pak Prabowo pidato tentang pernyataan politiknya saya iseng-iseng menyimak dengan baik dan benar. Awalnya saya penasaran akan seperti apa respon capres no 1 atas indikasi “kemenangan” rivalnya. Maklum, sejak siang hari hasil rekapitulasi KPU menunjukkan bahwa Jokowi lebih unggul dari Prabowo. Di menit-menit awal pidatonya saya masih biasa saja, di pertengahan menuju ke penutup saya mulai mengernyit. Sedikit keheranan atas apa yang pak Prabowo sampaikan dan putuskan.

Prabowo-Hatta memutuskan untuk menarik diri, timses, dan saksi dari Pilpres 2014 sesaat sebelum pengumuman hasil rekapitulasi KPU.

Intinya sih seperti itu. Jujur, atas pernyataan pak Prabowo ini saya baru tahu kalo capres boleh mengundurkan diri dari proses pemilihan presiden. Saya kira kalau sudah jadi calon ya gak bisa mundur. Saya cepat-cepat browsing, buka-buka twitter dan akhirnya menemukan kejelasan dari twit-twitnya pak Yusril Ihza Mahendra tentang tanggapan beliau dari segi hukum. Pemikiran saya ternyata ada benarnya. Capres tidak bisa mengundurkan diri dari proses pemilihan presiden, apalagi jika calonnya hanya ada 2. Bisa amburadul proses pemilihan presidennya. (baca disini twit pak Yusril)

Sebenarnya saya akui ini adalah sebuah respon yang wajar dari capres yang dinyatakan kalah atas nama indikasi kecurangan. Namun, yang saya sangat sayangkan adalah salah satu poin dari pernyataan beliau tentang MK dan KPU. Kurang lebih seperti ini.

KPU selalu mengalihkan masalah ke MK, seolah-olah setiap keberatan harus diselesaikan di MK padahal sumber masalahnya di KPU.

Saya jadi ingat di tahun 2011 ketika berkunjung ke gedung MK dan mengikuti perbincangan hangat dengan salah satu Hakim Konstitusi yaitu ibu Maria Farida Indrati. Kami diberikan pencerdasan mengenai tupoksi dan kewenangan dari lembaga Mahkamah Konstitusi. Nyatanya, MK dibentuk untuk menjadi lembaga hukum tertinggi di Republik Indonesia berdampingan dengan Mahkamah Agung. Salah satu kewenangan MK yang saya masih ingat jelas adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden yang berlangsung saat ini.

Saya sangat menyayangkan jika Prabowo-Hatta menarik diri beserta tim sukses dan rengrengannya dari proses pemilihan presiden ini. Apalagi pernyataan pak Prabowo yang saya singgung di atas seolah-olah mengartikan bahwa beliau merasa tidak perlu berurusan dengan MK karena semua kesalahan ada di KPU. Padahal jika ditelisik lebih dalam, mengajukan pengaduan ke MK atas permasalahan pemilihan umum adalah sudah menjadi hak dari setiap calon presiden, dan merupakan langkah paling tepat, daripada mengundurkan diri beberapa jam sebelum pengumuman hasil rekapitulasi.

Saya rasa jika memang Prabowo-Hatta merasa dicurangi dalam proses pilpres, tidak salahnya jika mengadukan ke pihak berwenang. Jika memang bawaslu tidak diindahkan oleh KPU, rasanya tidak perlu pesimis, marah, lalu mengundurkan diri. Mungkin KPU sedang sibuk rekap hasil, jadi tidak menanggapi laporan kecurangan haha. Tapi, jika memang bukti kecurangan cukup kuat, saksi kecurangan cukup banyak, dan optimisme kemenangan masih tinggi, kenapa tidak langsung mengadukan ke MK yang merupakan lembaga tertinggi hukum negara? Kelanjutannya, percayakan pada MK. Bukan malah mengundurkan diri, seolah-olah pundung karena tidak dianggap oleh KPU.

Sayang sekali rasanya. Apalagi dampak yang dirasakan setelah pernyataan politik Prabowo kebanyakan negatif. Seperti salah satunya serangan pribadi dari masyarakat kepada Prabowo, yang berbau cacian dan makian. Mungkin untuk sebagian besar masyarakat yang mendukung Prabowo, ungkapan kemunduran diri beliau menarik simpati dan empati mereka. Tapi tidak begitu dengan yang saya rasakan. Diluar dari karena saya memilih Jokowi, saya rasa banyak sekali yang harus disayangkan dari sikap yang pak Prabowo ambil saat ini sebagai calon yang dinyatakan kalah. Bahkan saya pikir pak Prabowo seolah-olah terlalu menunjukkan ambisi kemenangan untuk menjadi pemimpin bangsa.

Tak apalah, mungkin itu menjadi suatu kewajaran di dunia politik.

Tak apalah, lagi-lagi saya berharap ini tidak akan memecah belah negara kita.

Sayang kalo memang masyarakat kita saling memaki satu sama lain hanya karena calon yang diunggulkan kalah atau menang. Yang pasti, saat ini kita sudah tahu siapa presiden baru kita.

Semua ini mengingatkan saya pada sebuah cerita lama seorang cucu yang menyaksikan kakek tuanya marah-marah tak karuan di rumah, lalu bertanya pada sang nenek.

“Nek, itu kakek kenapa sih kok marah-marah mulu?” tanya cucu.

“Ah biarlah cu, kakekmu sedang kebakaran jenggot.” Jawab nenek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s