Ini Elegi, Kanda.

“Dinda, Kanda begitu sayang padamu. Janganlah engkau sembunyikan senyum manismu di balik segala kegelisahan itu. Hapuslah dinda, hapus semua gelisah itu. Karena Kanda akan tetap bersamamu.” Kala senja purnama.

Aku usap rambutku yang mulai memutih. Helai demi helai terasa tak selembut dulu, entah karena rambutku yang memang sudah rapuh atau mungkin karena kulit telapak tanganku yang mulai mengerut. Satu demi satu bayangan tentang Kanda muncul dalam ingatanku. Jelas terbayang tatapan Kanda ketika kami duduk berdua di depan perapian. Ia memegang tanganku, dan tak hentinya tersenyum padaku.

Nampak senyuman Kanda begitu tulus. Matanya berbinar, raut mukanya sumringah, senyuman tersungging dari bibir Kanda. Senyuman terbaik yang pernah aku temukan dari setiap wajah sosok manusia yang ku kenal di muka bumi ini. Aku pernah mengungkapkan itu padanya, tapi Kanda selalu membalikkan pernyataanku.

“Jelas senyumanmu yang paling terindah di alam ini, dinda.” Ujarnya, padaku.

Di pagi hari, Kanda selalu terbangun lebih dulu dariku. Ia bilang, ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengucapkan selamat pagi. Hanya untukku. Dengan suaranya yang begitu lembut untuk sosok Kanda yang sangat gagah, setiap hari ia ucapkan kata-kata yang sama terdengar. “Selamat pagi, dindaku. Semoga pagimu indah bersamaku, dan bersama Tuhanmu.”

Setiap hari, Kanda melakukan hal itu. Di samping tempat tidur kami yang begitu sederhana. Ranjang besi yang berdecit setiap kau tidur di atasnya. Sempat aku mencoba untuk bisa terbangun lebih dulu dari Kanda, tapi itu tak pernah berhasil kulakukan. Kanda telah terjaga ketika aku baru membuka kedua mataku. Hari demi hari aku coba melakukan itu, minggu demi minggu, hingga puluhan tahun. Aku tak pernah berhasil. Kanda selalu mengucapkan selamat pagi padaku terlebih dahulu. Bahkan sempat aku berpikir, mungkin Kanda sama sekali tak pernah tertidur selama ini.

Kanda adalah sosok yang tak hentinya melindungiku. Ketika setiap pagi aku beranjak pergi ke saung sanggar di samping rumah panggung kami, Kanda selalu mencoba untuk memastikan apakah cuaca di luar rumah begitu aman untuk ku lewati. Ketika hujan turun, Kanda selalu menahanku untuk pergi. Padahal jarak rumah dan sanggar hanya berkisar 100 meter. Ketika aku memaksakan diri untuk pergi, Kanda hanya menatapku lalu bergegas pergi ke belakang rumah. Aku heran dengan apa yang Kanda lakukan, hingga akhirnya ia datang kembali padaku dengan rambut dan bajunya yang sedikit basah oleh air hujan. Ia tersenyum, lalu menunjukkan sehelai daun pisang di tangan kanannya.
“Ini dinda, kau pakailah daun ini untuk menutupi kepala dan tubuhmu dari air hujan. Jangan kau terbasahi sedikitpun.”
Lalu Kanda memberikan daun pisang yang berwarna hijau tua itu padaku. Aku tak punya waktu untuk terkejut dengan apa yang Kanda lakukan untukku. Karena Kanda telah terlebih dahulu memegang kedua bahuku dan mengarahkan tubuhku berjalan keluar rumah.

“Sampaikan salamku pada anak-anak di sanggar, secepatnya aku menyusulmu ke sana.”

Kanda tersenyum. Aku anggukan kepala, mengiyakan permintaannya.

Beberapa tahun ini, aku dan Kanda mengisi hari demi hari dengan mengajari anak-anak desa menyanyi, menari, mengaji, dan berbagai hal yang bisa aku ajarkan kepada mereka. Kami menyebut tempat itu sebagai sanggar, walau sebenarnya lebih tepat berbentuk saung. Saung bambu tua milik sesepuh desa, ia meminjamkan tempat itu dengan sukarela kepada aku dan Kanda. Selalu baik kepada setiap orang.

Di sanggar, setiap harinya ada sekitar 7 hingga 9 orang anak-anak desa yang mampir dan mengikuti obrolanku. Obrolan tentang apa saja, tergantung keinginan mereka. Cerita dongeng, legenda, ceritaku tentang Kanda, dan bahkan ceritaku ketika masih seumuran mereka. Obrolan kami selalu dilanjutkan dengan kegiatan lain, menyanyi, menari, atau membaca ayat suci Al-Quran. Sesekali Kanda selalu menghampiri kami yang sedang asik mengobrol. Ia memerhatikanku dengan penuh seksama. Tersenyum, lalu ikut bertepuk tangan ketika aku selesai dengan obrolanku. Aku selalu tak pernah mampu berbuat apapun ketika Kanda memuji setiap karyaku. Kanda sering membuatku tersipu malu, dan tak mampu berucap satu katapun.

Kanda bergabung dengan aku dan anak-anak itu. Ia merupakan pendongeng yang hebat. Pembicara yang canggih. Imajinator yang sangat luar biasa. Setiap cerita yang Kanda bagi kepada anak-anak, selalu mendapatkan perhatian penuh dari mereka. Mereka selalu tertarik pada setiap cerita dongeng yang Kanda berikan. Ketika aku bertanya pada Kanda tentang bagaimana ia bisa melakukan hal itu dengan luar biasa, Kanda menjawab:

“Aku belajar banyak hal darimu, dinda. Dari cara berbicaramu, dari setiap cerita yang kau bacakan untuk anak-anak di sanggar. Aku tak pernah sama sekali menciptakan cerita yang baru, yang kulakukan hanyalah mengubah setiap cerita yang pernah kau ciptakan. Dan itu menyenangkan, terlebih ketika kau tidak menyadarinya.”

Kanda selalu mempunyai jawaban yang tak pernah terpikirkan dari setiap pertanyaanku yang kulontarkan kepadanya. Setiap ucapannya, selalu membuatku tersipu. Setiap saat, Kanda selalu memujiku. “Kau cantik, dinda” atau “Kau begitu cerdas, sayang.” Sekali waktu, Kanda mengutarakan pertanyaan yang hingga detik ini aku tak mampu menjawabnya.

“Bagaimana bisa kau mencintaiku, dengan segala keindahan yang kau miliki dan kesempurnaan hati itu, dinda?”

Pertanyaan ini sulit untuk aku jawab. Bukan karena aku tak tahu jawaban yang bisa aku berikan pada Kanda, tapi karena Kanda seolah tak pernah mau mengakui bahwa dia begitu hebat untuk bisa kucintai. Kanda bahkan terlalu hebat untuk hanya sekedar aku beri cinta. Sempat aku meminta pada Tuhan untuk tunjukkan rasa yang lebih tinggi dari sekedar cinta untuk bisa kuberikan pada Kanda. Namun Kanda, tak pernah dan mungkin tak ingin menyadari bahwa semua yang ia lakukan, kecintaannya padaku, setiap laku penghormatannya padaku, ia terlalu hebat untuk bisa aku cintai. Kanda yang selalu membuatku terlihat hebat di matanya. Kanda yang selalu mengajari senyuman dalam kegelapan. Kanda sudah menjadi segalanya bagiku, dan Tuhan tahu itu.

Air mata mulai mengucur dari bola mataku. Tak tertahan lagi. Ketika aku terus mengelus rambutku dengan tangan yang bergetar. Di hadapanku ada sosok Kanda yang selalu mengelus rambutku setiap malam. Di hadapanku ada sosok Kanda yang selalu mencium keningku setiap saat. Di hadapanku, akhirnya aku bisa terbangun lebih dulu dari Kanda, terjaga dan menatap Kanda yang sedang tertidur. Tapi, Kanda… Kanda bukan tertidur, sosok Kanda telah kaku. Kulit tubuhnya membiru. Kanda… Kanda telah tiada. Tangisku pecah. Jeritku tak terdengar. Kanda tak mendengarkanku. Aku genggam tanggan Kanda, ia tak balik menggenggam tanganku. Tubuh Kanda dingin, ia kedinginan. Aku peluk Kanda, tapi ia tak memelukku seperti biasanya. Ia terdiam, tak berbuat apapun.

“Apa Kanda tak ingin aku peluk?”, tangisku.

Kanda………
Aku memeluk Kanda di pangkuanku. Berharap Kanda membuka kedua matanya yang tertutup, lalu tersenyum padaku dan memelukku. Aku peluk Kanda, semakin erat. Air mataku membasahi pipiku sekaligus pipi Kanda. Tapi Kanda… Ia tak berkutik. Kanda…. Kau pergi, meninggalkanku…

Malam semakin kelam, hitam, legam. “Kanda, jangan biarkan aku tenggelam. Aku mencintaimu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s