Musa Metropolitan (part 1)

“Bedebah! Bagaimana bisa dia mengalahkanku? Pasti ada kecurangan di balik semua ini!” Jenderal berteriak marah. Wajahnya memerah, kedua bola matanya melotot seolah berusaha keluar dan meloncat, dadanya yang tegap kembang kempis menahan emosi yang bergejolak. Tubuhnya yang kekar semakin menegang, telapak tangannya mengepal keras-keras. “Brak!” Jenderal memukul meja di hadapannya.

“Ajudan! Panggil Penasihat ke dalam ruanganku. Sekarang!”, suara Jenderal terdengar menggelegar dalam ruang kerjanya yang begitu mewah. Mendengar kemarahan Jenderal, sang ajudan lari terbirit-birit melakukan tugasnya, tanpa berkata apapun. Sungguh, ia tak ingin kehilangan nyawa.

Ruangan kerja Jenderal terasa semakin panas. Lukisan harimau dengan tatapan mata yang tajam terpajang gagah di salah satu sisi dinding ruangan. Sebuah pedang panjang yang konon merupakan pedang sakti yang ia dapatkan dari gurunya, tergantung di sudut ruangan yang lain. Jenderal penyuka barang antik nan mewah. Ia tak pernah bermasalah dengan harga yang mahal. Setiap keinginannya, harus terpenuhi. Bahkan, jika ada iblis yang menawarkan barang terantik se-jagat raya pun mungkin Jenderal tak akan segan menukar dengan nyawanya. Jenderal selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Anak buahnya tersebar di mana-mana. Kekuasaannya melingkupi pelosok-pelosok negeri. Ia ditakutkan oleh rakyat. Bahkan tak ada satupun yang berani menatap mata Jenderal ketika berbicara padanya.

Pagi ini menjadi pagi terburuk sepanjang hidup Jenderal. Satu-satunya hari dimana Jenderal kalah dalam sebuah kompetisi yang menyangkut hidup dan matinya. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang Jenderal miliki, kekalahan menjadi suatu istilah yang sangat haram. Selama puluhan tahun hidupnya bergelut di dunia politik yang kejam, tak ada satu orang pun yang mampu berhasil menggeser posisi tertinggi yang ia duduki. Jenderal tak terkalahkan. Semua orang tahu itu.

Namun pagi ini, semua tradisi terpatahkan. Istilah “Jenderal tak terkalahkan” jatuh begitu saja. Ini begitu menyakitkan bagi Jenderal. Terlebih ia dikalahkan oleh seseorang yang sangat-sangat ia remehkan. Bak Harimau dan semut. Jenderal punya segalanya, Jenderal berkuasa, Jenderal terlalu cerdas termasuk dalam kejahatan, tepatnya picik. Namun, dengan semua itu Jenderal bisa mendapatkan segalanya. Tapi orang ini, orang yang mengalahkan Jenderal untuk pertama kalinya. Orang yang membuat emosi Jenderal kian membara pagi ini adalah orang yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jenderal. Ia tak punya segala yang Jendral miliki. Ia sosok pemula dalam dunia perpolitikan yang Jenderal telah berada di dalamnya puluhan tahun lamanya. Sosok ini sama sekali tak layak disaingkan dengan Jender`al, dalam beberapa hal, dan Jenderal sudah menyadari itu semua.

Semua berubah total. Ketika beberapa bulan yang lalu, para pengikut Jenderal mulai berpaling dan meninggalkan kekuasaannya. Tak pernah sekalipun rakyat berani mengacuhkan Jenderal dan berpaling ke sosok penguasa lain. Tapi kali ini berbeda. Jenderal merasa terancam.

Tok. Tok. Tok.

“Jenderal, ini saya.” Suara sang Penasihat.

“Masuk, kau!” teriak Jenderal.

Sang Penasihat masuk dengan tergesa. Tubuhnya yang ringkih berjalan mendekat pada Jenderal. Umur Penasihat sudah tidak muda lagi. Ia telah mengabdi pada Jenderal hampir setengah perjalanan karirnya. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan ketika Jenderal terbakar emosinya. Tapi kali ini, ia seolah kehilangan akal.

“Bangsat memang! Mengapa bisa bedebah itu mengalahkanku? Ini tidak mungkin!” Jenderal masih terus tergugu oleh amarah.

“Dengar Penasihat, bukankah aku sudah mengikuti nasihatmu untuk terus menyebarluaskan cerita busuk tentang tikus itu. Hampir setiap media antek-antek sudah berada di pihak kita. Bahkan anak buahku sudah memastikan tidak akan ada rakyat yang bisa melihat kebaikannya. Tapi kenapa dia masih bisa mengalahkanku? Aku sudah mendengarkan setiap ucapanmu, Penasihat!” Jenderal berdiri tepat di depan Penasihat yang sudah tua dimakan umur itu. Tatapan matanya tajam, tak ada lagi keteduhan yang selalu muncul, hanya kemarahan yang membara.

“Jenderal, saya izin berbicara.” Suara Penasihat terdengar parau, tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikannya.

“Dengar Penasihat, aku tak butuh nasihat-nasihatmu yang hanya omong kosong seperti biasanya. Aku hanya ingin dengar kata-kata yang pasti dari mulutmu itu!” Jenderal kembali duduk di kursi kesayangannya. Kedua tangannya masih mengepal.

“Baik Jenderal. Namun sebelumnya, saya pikir Jenderal harus mampu menahan amarah itu. Sayanglah, jika Jenderal terus emosi seperti ini tapi tak ada sama sekali yang bisa kita lakukan.” Sang Jenderal menghela nafas yang sangat panjang. Lalu ia berkata, “Aku mencoba untuk tenang, tapi pikirlah bagaimana aku bisa tenang jika ternyata aku dikalahkan oleh tikus got seperti dia? Ha?” suara Jenderal tetap meninggi.

“Jenderal, saya paham posisi Jenderal. Bahkan sebagai Penasihat Jenderal selama bertahun-tahun ini saya juga terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Tapi Jenderal, percayalah, saya sudah pernah berbicara tentang hal ini di forum kita. Tikus got itu berada di kubu musuh-musuh Jenderal, seperti yang telah saya ungkapkan 3 bulan yang lalu. Saya yakin betul, musuh-musuh Jenderal lah yang berada di balik ini semua. Mereka mebentuk kubu untuk mampu mengalahkan Jenderal. Jenderal terlalu kuat, tapi untuk kali ini mereka memang menang.” Penasihat menaikkan kacamatanya yang mulai turun. Dahi Jenderal mengerut, tatapannya masih sangat tajam, ia mendengarkan dengan seksama apa yang Penasihat katakan padanya.

“Aku tak ingin basa-basi Penasihat. Jika memang musuh-musuhku yang berada di balik ini semua, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Sang Penasihat tersenyum miris, ia merasa ragu untuk mengungkapkan ini pada Jenderal. Selama ini, setiap perkataannya selalu diterima oleh Jenderal. Ia sudah menjadi orang terpercaya si penguasa ini. Tak ada satu orang pun yang mampu mengambil kedudukannya. Bergelut di dunia yang kelam ini membuat ia harus memiliki pikiran yang cerdas. Berada di posisi yang aman dan menjadi orang yang dapat mempengaruhi pikiran si penguasa, menurutnya adalah hal paling tepat.

“Kita harus berbuat apa Penasihat?” suara Jenderal kembali meninggi.

“Tenang, Jenderal..” Penasihat menghirup nafas panjang. Lalu melanjutkan perkataannya. “Seperti yang biasa saya katakan kepada Jenderal, dan seperti yang biasa kita lakukan kepada pesaing-pesaingmu, satu-satunya jalan untuk merebut kembali kemenangan ini dari tikus got itu adalah dengan menghabisinya.”

Jenderal terdiam. Ia hampir lupa bahwa setiap musuh yang hampir mengalahkannya selalu ia kalahkan terlebih dahulu dengan membuat bumi menelannya.

“Tapi, apakah itu tidak akan terlalu berbahaya?” ujar Jenderal.

“Tidak Jenderal, percayalah. Kita masih memiliki banyak masa. Kita pasti berhasil.” Ucapan Penasihat begitu meyakinkan. Jenderal mengangguk pasti. Lalu tersenyum sinis.

“Baiklah aku ikuti perkataanmu! Aku selalu suka caramu, Penasihat!” ia menghampiri Penasihat, dan menepuk bahu kakek tua itu.

“Ajudan! Kemari kau!” teriak Jenderal, beberapa detik kemudian sang Ajudan sudah berada di dalam ruangan. “Segeralah kau panggil kolega-kolegaku, suruh mereka berkumpul di ruangan ini. Setelah itu, segeralah kau kumpulkan massa-massaku yang berguna. Kita akan serang dan habisi Tikus Got itu. Cepat Ajudan!”

“Baik, Jenderal.”

Jenderal masih dikuasai oleh emosinya, namun ia sudah mampu mengendalikan. Beberapa menit lagi, kolega-koleganya akan datang ke istana miliknya. pengikutnya pun pasti tak akan mau kehilangan kesempatan ini. “Tunggulah tikus got, aku akan menghabisimu, bodoh!”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s