Musa Metropolitan (part 2)

Di sudut kota lain, rumah tua dipenuhi oleh orang-orang yang sedang tertawa bahagia. Saling berbincang. Membicarakan kemenangan yang mereka raih. “Akhirnya, si Jenderal tua bangka itu terkalahkan! Kau tau, bahkan saking senangnya aku berani berlari mengelilingi Monas tanpa sehelai kain melekat di tubuhku! Hahahahaha.” Ujar seorang pria bertubuh gendut dengan jas dan dasi kupu-kupu melekat di lehernya. Rekannya hanya menanggapi dengan tertawa.

Orang-orang ini berkumpul atas perintah sosok pria yang sekarang sedang duduk tenang di sofa bagian dalam rumah. Pria yang dikelilingi oleh pria-pria lain dengan kemeja dan jas yang hampir sama. Sosok ini tumbuh dengan raut wajah yang tenang, seperti tak ada beban sedikitpun. Bahkan di saat ia berada di kemenangan yang tak pernah diraih oleh siapapun, ia masih tetap menunjukkan raut wajah yang biasa.

“Tuan, lalu apa yang akan kau lakukan setelah menang telak dari tua bangka itu?” seseorang dari mereka mengajukan pertanyaan pada pria ini.

Pria itu tersenyum, dan dengan tenangnya ia berkata. “Lebih baik kita bersenang-senang saja, tak perlu kita pikirkan dia dan massanya. Kompetisi sudah berakhir, toh. Kita sudah menang. Biarkan ia sibuk dengan kekalahan. Sekali-kali kita harus beri pelajaran.” Ia tersenyum, lalu orang-orang tersebut ikut tertawa.

“Tuaaaaaan, tuaaaan.” Tiba-tiba seorang ajudan berlari menghampiri kerumunan orang-orang dan mencoba untuk bisa menatap wajah si pria. Ia tersengal, dan memegang dadanya yang kesakitan.

“Ada apa Ajudan? Mengapa kau berteriak seperti ini? Tenang. Kau harus tenang.” Ujar si pria.

“Ada hal penting tuan. Ini tentang Jenderal.” Ia masih tersengal dan kesulitan bernafas. Sepertinya ia telah berlari dengan jarak yang cukup jauh.

“Baiklah, duduk dulu kau. Kau harus tenang.” Lalu si pria menunjuk salah satu koleganya. “Coba kau beri dia minum..” sang kolega menuruti perintah si pria. Ajudan meminum segelas air putih, dan mengucap terimakasih.

“Nah, ceritalah engkau.”

Sang ajudan mulai berbicara. “Begini tuan, tadi saya mendapat kabar dari rekan saya, ajudan tuan juga bahwa Jenderal dan kolega serta massanya sedang dalam perjalanan kemari. Mereka akan menyerang kita, mereka berencana menghabisi tuan.”

“Bangsat!” seorang pria lain memotong pembicaraan ajudan. “Lihatlah! Sudah kuduga, dia tak akan main-main!”

“Tenanglah, biarkan dia selesai berbicara.” Ujar si pria lalu memerintahkan ajudan untuk melanjutkan.

“Terimakasih tuan. Seperti yang sudah saya katakan, Jenderal sudah berada dalam perjalanannya menuju kesini. Saya sarankan kita harus cepat bergegas tuan. Demi keselamatan tuan.” Ajudan berbicara dengan begitu meyakinkan. Sebagian besar orang yang berada di ruang itu mengangguk setuju.

Si pria dengan tenangnya berkata. “Penasihat? Apa kau berada di sini?” sang penasihat pun mencoba untuk mendekat pada pria ini, sedari tadi ia terhalangi oleh tubuh-tubuh tegap kolega-kolega majikannya.

“Hadir tuan. Saya bersama tuan.” Ujar penasihat.

“Baiklah, apa yang harus kita lakukan?” tanya si pria.

Penasihat berpikir sejenak, lalu berkata. “Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh ajudan tuan. Kita harus bergegas pergi, karena saat ini massa kita akan kalah jumlah dengan massa Jenderal. Mereka tak akan segan menghabisi kita tuan. Tapi, sayang…” ia terhenti. Lalu melanjutkan. “Saya belum mempunyai ide kemana kita akan pergi, tuan.”

Si pria mengangguk paham, lalu melontarkan pertanyaan. “Adakah diantara kolega-kolegaku ini yang bisa memberiku saran kemana kita akan pergi?”

Mendengar pertanyaan si pria, orang-orang berjas itu saling menatap satu sama lain. Tak ada yang tahu. Ruangan hening beberapa detik, hingga akhirnya muncul seseorang muda yang berbicara. “Tuan, izin berbicara. Saya sarankan kita pergi ke Laut Kegelapan. Laut Kegelapan adalah tempat paling tepat untuk menunjukkan siapa yang salah dan benar, tuan. Jika kita yakin, kita harus pergi ke sana.”

Mendengar saran sang pemuda, beberapa kolega si pria terkejut dan langsung menolak. Beberapa hanya mengangguk setuju. Si pria masih tetap tenang, ia menutup mata untuk beberapa saat.

“Tuan, pasukan Jenderal sudah semakin mendekat!” teriak ajudan.

Suasana ruangan mulai mencekam. Satu persatu kolega mulai saling mendekat dan bertanya apa yang harus dilakukan. Mendesak si pria untuk memutuskan sesuatu.

“Baiklah, baiklah. Untuk saat ini kita segera bergegas pergi ke Laut Kegelapan. Tenanglah, ini untuk sementara. Percayalah, Tuhan akan melindungi kita.”

Mendengar ucapan si Pria, semua kolega, ajudan, serta penasihat mulai bergegas keluar rumah dan menuju ke Laut Kegelapan. Tapi sang pria teringat sesuatu yang tak ingin ia tinggalkan. “Ajudan, aku harus membawa tongkatku terlebih dahulu. Tunggulah sebentar.” Ajudan mengangguk, sang pria pergi ke kamarnya.

Kamar yang sederhana, di dalamnya hanya ada satu buah kursi selain tempat tidur. Di sudut samping kursi terletak sebuah tongkat panjang berwarna perak. Tanpa pikir panjang ia kemudian mengambil tongkat itu lalu bergegas kembali ke kumpulan koleganya. “Mari kita pergi ke Laut Kegelapan.”

Mereka berlari dengan dipimpin oleh si pria dan penasihat. Beberapa langkah di belakang rombongan mereka, mulai tampak segerombolan pasukan berkuda dengan pemimpin yang begitu gagah dipenuhi dengan amarah yang membara, Jenderal.

“Tuan, cepat tuan!” teriak salah satu kolega yang berbadan gendut dan mulai kehabisan tenaga. Mereka terus berlari, dikejar oleh pasukan berkuda Jenderal.

Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka, Laut Kegelapan. Mereka berhenti di bibir pantai, lalu saling bertanya apa yang akan dilakukan. Hingga pasukan berkuda Jenderal tiba di hadapan mereka.

“Berhenti!” perintah Jenderal kepada pengikutnya. Lalu ia turun dari kudanya, dan mendekat pada si pria.

“Tikus Got! Hahahahaha” Ia tertawa. Posisinya saat ini tepat di hadapan si pria. “Mau pergi kemana kau, bedebah? Kau takut? Hahahaha.” Ia menatap dengan penuh kebencian. “Dengarlah, tikus got busuk! Kau mungkin bisa mengalahkanku, tapi kau dan mereka…” ia menunjuk pada kolega-kolega si pria, “kalian! Tak akan bisa kabur dariku dan pasukanku. Kalian akan aku habisi!” Jenderal mengeluarkan pedang saktinya dari bagian belakangan tubuhnya. Melihat hal itu seluruh kolega si pria ketakutan dan saling berlindung.

Dengan tenang si pria berkata. “Kau, sungguh seperti apa yang mereka katakan. Tak pernah puas dengan apa yang telah kau raih.” Si pria tetap berdiri tegap, walau Jenderal jauh lebih gagah darinya. “Sungguh, aku menyayangkan segala keserakahanmu itu, Jenderal.”

“Diam kau!” Jenderal mencengkeram leher si pria. Ia menatapnya dengan tajam. “Kau benar-benar akan kuhabisi hari ini! Neraka sudah menunggumu bedebah!” sang pria berusaha melepaskan lehernya dari genggaman si Jenderal, ia berhasil lalu mundur beberapa langkah, mendekat pada penasihat dan kolega-koleganya.

“Lihatlah! Mereka ketakutan hahahahaha” Jenderal berteriak kepada para pengikutnya yang juga serentak tertawa.

“Tuan, kita harus berbuat apa tuan?” ujar penasihat kepada si pria. Lalu pria berkata, “Ajudan, kemarikan tongkatku.” Sang ajudan mendekat dan memberikan tongkat yang tadi dititipkan padanya. “Ini tuan..”

Melihat si pria memegang tongkat berlapis perak, Jenderal menatap miris lalu berkata. “Lihatlah sobat, ia hanya mampu membawa tongkat, sedangkan kita, pedang dan pasukan berkuda.” Pasukan Jenderal kembali tertawa. “Sudahlah! Lebih baik kau berdoa saja pada Tuhanmu, supaya kematianmu tidak begitu menyakitkan, busuk!”

“Dengar, aku selalu berdoa pada Tuhanku, agar engkau bisa kembali berada di jalan Tuhanmu. Aku tak pernah sekalipun ingin berbuat hal seperti ini, tapi tak ada pilihan lain lagi. Kau sudah benar-benar keterlaluan!” Setelah selesai dengan ucapannya, si pria langsung mengetukkan tongkatnya ke pasir sebanyak 3 kali. Jenderal dan pasukannya melihat kebingungan apa yang dilakukan oleh si pria. Beberapa menit kemudian angin berhembus begitu kencang, pasir berterbangan menutupi pandangan. Deburan ombak semakin membesar.

“Jenderal, lihat!” tiba-tiba salah seorang pengikut Jenderal berteriak. “Laut itu terbelah, Jenderal!”

Sang Jenderal dan seluruh orang yang berada di sana terkejut dan keheranan melihat apa yang terjadi. Laut Kegelapan terbelah menjadi dua, membuka sebuah jalan sepanjang laut yang ujungnya tak tampak. Tanpa berpikir panjang, si pria mulai memberi perintah. “Ayo semua, kita menuju jalan itu.” Kolega-kolega si pria masih ternganga-nganga, tidak sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi. Namun, sebagian dari mereka terus menarik satu sama lain untuk segera melewati jalan di tengah laut terbelah itu.

Dengan dipimpin si pria, pasukannya terus berlari membelah lautan. Mereka berusaha untuk menggapai ujung yang belum terlihat. Jenderal dan pasukannya masih tidak sadar melihat kemustahilan terjadi di depan mereka. Hingga setelah pasukan si pria sudah menempuh setengah perjalanan, sang Jenderal menyadari itu. Lalu segera naik kembali ke atas kudanya. “Pengikutku! Ayo kita kejar mereka!!!”

Sebagian pengikut sang Jenderal masih terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Mereka kembali mengejar pasukan si pria yang sudah berlari jauh dari mereka.

“Tuan, itu ujungnya tuan!” teriak sang ajudan.

“Ayo, sebentar lagi kita sampai!”

Mereka terus berlari, dikejar oleh pasukan berkuda sang Jenderal. Beberapa kuda merasa ketakutan untuk menyeberangi lautan yang terbelah dan menarik diri dari gerombolan. Pasukan si pria sudah mencapai ujung jalanan laut yang terbelah. Mereka saling menolong satu persatu, si kuat memapah si lemah, si muda menarik si tua. Semua saling menyelamatkan.

Ketika pasukan Jenderal baru memasuki jalanan laut yang terbelah, pasukan si pria sudah keluar dari terowongan air laut itu. Mereka menyaksikan pasukan kuda Jenderal semakin mendekat.

“Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang tuan?” tanya salah satu kolega.

Si pria mencoba untuk tetap tenang dengan tongkat di tangannya. Bajunya terlihat basah dimana-mana. Ia merenung, dan berkata. “Biarkan Tuhan yang menunjukkan segalanya.”

Beberapa detik kemudian, air laut perlahan kembali menutup terowongan yang tadi terbelah. Seperti kubah yang tertutup, dari bagian terujung air laut mulai menutup kembali. Sedangkan pasukan Jenderal masih berada di jalanan itu.

“Jenderal, air lautnya kembali menutup Jenderal!”

“Bangsat! Segeralah kita sampai ke ujung!!!!!” Teriak Jenderal yang sekuat tenaga mempercepat lari si kudanya.

Pasukan si pria ketakutan melihat air laut mulai perlahan mengejar pasukan Jenderal. Sebagian dari mereka terjatuh lesu ketika melihat beberapa pasukan Jenderal yang berada di barisan paling belakang telah ditelan air laut. Geraknya begitu cepat, pasukan Jenderal tak mampu mengelak. Yang terdengar hanya teriakan, hingga satu persatu semua tenggelam. Termasuk Jenderal.

Air laut kembali menutup. Tenang, seperti semula. Deburan ombak kembali menghias laut yang luas. Si Pria dan pasukannya yang merupakan kolega-kolega berjas dan berdasi, yang bahkan bentuknya sudah tidak karuan, saat ini berada di belahan daratan lainnya. Mereka akhirnya terduduk lemas, saling berpelukan.

Penasihat si pria masih berada di sampingnya, lalu ia berkata.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu?” tanyanya.

Si pria menggeleng, tanpa menjawab.

“Lalu, mengapa mereka bisa tenggelam?” tanyanya kembali.

“Aku pun tak tahu, penasihat.” Si pria menatap langit biru. “Yang aku tahu, setiap kebencian akan menenggelamkan kita dalam kegelapan. Setiap kemarahan yang tak terkendali akan menjatuhkan kita dalam kegelapan.”

Mereka termenung.

“Biarlah, kita belajar banyak hal dari kejadian ini. Tuhan tak pernah salah mengajarkan.” Ujar si pria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s