Akselerasi, Bukan Sekedar Percepatan

Berada di rumah dalam waktu yang cukup panjang memberikan ruang untuk saya dapat kembali mengorek beberapa “dokumen lama” mengenai masa kecil saya. Beberapa foto dan berkas-berkas tersimpan rapi di dalam tumpukan kardus yang bahkan sudah mulai melapuk seiring waktu. Satu bundel dokumen mengingatkan saya pada masa ketika menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Saking sudah lamanya, saya bahkan hampir lupa bahwa pernah mengikuti program Akselerasi di SMP waktu itu. Jika program reguler mengharuskan siswa menempuh jenjang SMP selama 3 tahun, kelas Akselerasi memiliki program yang dapat meluluskan siswa-siswanya dalam waktu 2 tahun saja.

Menjadi salah satu produk program pendidikan kelas percepatan, lantas tidak begitu saja membuat saya menjadi totally seseorang yang terlalu ambisius dalam akademik. Paradigma masyarakat tentang anak yang mengikuti program Akselerasi adalah anak-anak pilihan dan memiliki kepintaran yang lebih tinggi di banding yang lain, jelas saya bantah. Bahkan sebenarnya, jika berdasarkan apa yang saya amati, setiap anak yang mengikuti program Akselerasi bukan selalu memiliki kemampuan ekstra di bidang akademik. Nyatanya, beberapa rekan saya jauh lebih jenius di peminatan lain seperti seni, kemampuan berorganisasi, kemampuan sosial, dll.

Diluar itu semua, waktu 2 tahun jauh lebih singkat dari yang dibayangkan. Hal ini saya rasakan dengan begitu sedikitnya moment masa itu yang masih bisa saya ingat sampai saat ini. Entah karena memang sudah terlalu banyak moment-moment lain yang jauh lebih mudah diingat, atau bahkan mungkin karena tidak adanya momen yang enak untuk diingat. Berikut hanya beberapa hal yang saya ingat jelas berdasarkan pengalaman sebagai siswa Akselerasi.

4 Pindah, Sisa 20

Sebelum dinyatakan lolos program Akselerasi, saya dan teman-teman harus mengikuti rangkaian seleksi yang bahkan dulu saya ikuti tanpa persiapan sama sekali. Maklum, namanya juga anak SD dari perkampungan. Bahkan saya baru mengenal istilah Akselerasi pada hari dilakukannya seleksi. Dengan modal nekad dan berani akhirnya saya dinyatakan lolos program dengan predikat ke-12 dari 24 orang yang diterima. Pas-pasan.

Ketika saya berhasil mengantongi izin dari ayah dan ibu, akhirnya saya bisa menjalankan bangku SMP selama 2 tahun selanjutnya. Di minggu pertama, kegiatan kami masih sama seperti kelas yang lain. Belajar, istirahat, makan, pulang, mengerjakan tugas, ngobrol, dan lain-lain. Tapi minggu-minggu selanjutnya mulai terasa perbedaan yang begitu nampak. Dengan bimbingan guru BK, kami diberi pengertian tentang anjuran untuk lebih fokus dalam hal belajar di kelas dibanding dengan hal lainnya. Bahkan secara tidak langsung, kami tidak diperbolehkan untuk mengikuti ekstrakulikuler yang sekiranya akan memakan waktu yang banyak. Maka dari itu, sebagian dari teman-teman Akselerasi hanya mengikuti ekstrakulikuler berbau akademik saja seperti KPM (Komunitas Pencinta Matematika), English Club, dan Jurnalis.

Ketetapan ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa 4 dari teman-teman saya memutuskan untuk pindah ke kelas reguler. Dalam waktu yang cukup singkat dan berturut-turut, kelas kami kehilangan 4 anggotanya yang sebenarnya masih bisa kami temui setiap hari di sekolah, yang membedakan adalah bahwa mereka bukan lagi menjadi salah satu dari program ini. Tapi entahlah, walau begitu menyayangkan keputusan teman-teman pada saat itu tapi hal itu tidak banyak mempengaruhi kegiatan kami selanjutnya. Total 20 anak di kelas bertahan sampai kami dinyatakan lulus 2 tahun setelahnya.

Klinik Akademis

Akhir-akhir ini istilah Full Day School sudah tidak asing lagi ditelinga para civitas akademika. Berbagai standar akreditasi sekolah mengharuskan untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar satu hari penuh. Sejak SMP saya sudah merasakan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Normalnya, kegiatan belajar mengajar hanya dilaksanakan sampai pukul 2 siang, tapi tidak dengan program Akselerasi. Kami, yaitu saya dan 23 orang rekan lainnya, diharuskan mengikuti kegiatan belajar mengajar sampai pukul 16.00 atau 4 sore bahkan jika memungkinkan bisa lebih dari itu. Saya ingat, dulu sekolah saya menamai program ini dengan sebutan Klinik Akademis.

Klinik Akademis adalah sejenis program yang biasanya lebih dikenal dengan istilah “tambahan”. Artinya ketika siswa mengikuti program ini maka akan mendapatkan tambahan pelajaran, dengan tambahan waktu, tambahan kesempatan bertemu guru, tambahan tugas, tambahan latihan soal, dan tambah lama diam di sekolah. Intinya semua bertambah. Kami tidak diwajibkan untuk selalu mengikuti Klinik Akademis setiap hari. Hal itu yang membuat saya sangat menyukai program ini. Bahkan sebenarnya, kami dibebaskan untuk memilih mata pelajaran apa yang diinginkan untuk dipelajari per harinya, dan tidak mengharuskan satu kelas selalu satu pilihan. Jadi, jika suatu hari saya menginginkan belajar mengenai Fisika, tapi beberapa rekan saya lebih memilih Matematika, kegiatan belajar akan tetap berlangsung. Guru yang menjadi penanggung jawab selalu stand by dan menyesuaikan keinginan saya dan teman-teman. Otomatis dalam satu hari bisa diadakan 3 kelas berbeda untuk Klinik Akademis, tergantung yang kami ajukan.

Walaupun harus mengorbankan waktu lebih banyak untuk berdiam di kelas dan mendengarkan penjelasan dari guru, tapi intinya saya begitu menyukai program Klinik Akademis ini. Kebebasan memilih hal apa untuk dipelajari menambah semangat dalam menjalankan hal itu, tidak ada paksaan dan keharusan. Lumayan, rasanya seperti mendapat les gratis. Hehehe

Apakah ini Bullying?

Sebagai angkatan pertama dari hanya 2 angkatan, saya dan teman-teman pernah mengalami yang namanya penolakan. Entahdeh, waktu itu istilah bully masih jarang dikenal, tapi jika saya pikir ulang mungkin saya dan teman-teman merupakan salah satu korban bullying sederahana hehehe. Jadi ceritanya, di tahun pertama sebelum adanya kelas SBI di sekolah, kelas kami terlihat seperti lebih diistimewakan. Adanya fasilitas AC, TV, dan komputer, meja dan kursi dengan kualitas yang bagus, dibimbing oleh 2 hingga 3 orang pengajar setiap mata pelajarannya, ditambah penampilan anak-anaknya yang culun dan tak mudah bersosialisasi dengan teman-teman kelas lainnya, kami selalu menjadi bahan olok-olok setiap siswa lainnya. Kebanyakan, mereka yang kakak kelas dan sekarang menjadi satu angkatan.

Bahkan sebenarnya jika saya mengingat ini sekarang, selalu membuat saya tersenyum geli. Bayangkan saja, rasanya setiap gerak-gerik kami di sekolah seolah-olah ada yang memerhatikan, siapapun itu (atau mungkin ini perasaan saya saja hehe). Kebetulan kelas kami terletak di lantai satu dan di bagian depan sekolah. Terletak tepat di depan lapangan upacara yang dimana setiap siswa dan siswi yang berada di lantai 2 bisa menyaksikan segala hal di dalamnya. Lucunya, ketika saya dan teman-teman pergi ke kantin yang mengharuskan kami menyeberangi lapang, di lantai atas sudah ada kakak-kakak kelas yang sedang menyaksikan kami berjalan dan sesekali menyoraki kami. Pokoknya, mengerikan sekali.

Lain halnya ketika upacara yang dimana setiap bentuk informasi selalu diumumkan pada saat itu. Ketika salah satu dari kami mendapatkan prestasi, sebagian kakak kelas menyoraki kami. Ketika kelas kami mendapatkan bendera putih sebagai penghargaan sebagai salah satu kelas terbesih, sebagian kakak kelas tetap menyoraki. Apalagi ketika suatu hari kami mendapatkan bendera hitam, karena menurut tim penilai, kelas kami termasuk kelas terkotor untuk minggu itu, dan tentu saja kami mendapatkan serangan sorak sorai yang sangat riuh. Dengan miris, kami yang berbaris di paling ujung barisan hanya bisa tertunduk dan saling menatap.

Suatu hari, ketika ada acara peringatan hari guru, waktu itu sekolah kami mengadakan kegiatan Jalan Santai. Setiap siswa dikumpulkan di lapangan untuk kemudian dipanggil satu persatu kelas yang selanjutnya memulai perjalanan. Kebetulan, yang dipanggil pertama adalah kelas Akselerasi. Dan waktu itu, kami yang berada pada barisan terdepan tanpa berpikir panjang langsung menuju ke gerbang untuk melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, kami mendapatkan sorakan yang begitu riuh dari siswa-siswi lain, yang juga berada di lapangan, maupun yang berada di lantai atas. Mereka dengan tertawa menyoraki kami, dan bahkan saya ingat sekali sebagian dari kami langsung lari terbirit-birit meninggalkan lapangan karena merasa malu.

Well, itu terjadi selama 2 tahun kami di sekolah. Hal ini yang menyebabkan saya tidak memiliki banyak teman yang berasal dari kelas lain. Tapi ketika saya mengingat-ingat kejadian tersebut, saya selalu tertawa karena sebagian besar kakak kelas saya yang dulu ikut menyoraki kami, sekarang menjadi teman satu angkatan dan bahkan banyak dari mereka yang menjadi teman baik saya di SMA.

Dulu memang mengerikan, tapi sekarang begitu lucu rasanya. Walaupun sampai saat ini saya masih tidak paham alasan kami senantiasa disoraki.

Banyak hal seru dan menarik dan mengesankan dan menantang sekaligus mengerikan ketika saya duduk di bangku SMP. Banyak hal yang menjadi ilmu berharga yang bisa saya gunakan saat di bangku SMA dan kuliah. Intinya, walaupun banyak pahitnya, tapi saya bersyukur menjadi produk dari program Akselerasi. Karena pada dasarnya, makna Akselerasi bukan sebatas percepatan waktu sekolah, melainkan jauh lebih dari itu.

Masa Orientasi Siswa (2007)

Masa Orientasi Siswa (2007)

Graduation Day

Graduation Day (2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s