Kita yang Belajar

Sesungguhnya bagiku yang mahasiswa hampir tingkat akhir, KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah seperti batu loncatan kecil untuk melebur dengan masyarakat. Terlebih aku yang mahasiswa pertanian, jelas, ketika disebutlah kata pertanian maka mindset setiap orang akan tertuju pada pedesaan, perkampungan, dan per-pelosok­-an. Tidak salah. Karena begitu adanya ketika pertanian erat kaitannya dengan sawah, dan sawah erat kaitannya dengan desa. Tentang pertanian adalah bagian kecil yang kudapatkan di tempat ini, ada hal lain yang tidak kalah menarik dan berharganya yang mudah-mudahan penyampaianku di sini dapat dipahami dan dipelajari oleh semua yang membaca.

Di minggu ketiga KKN, baru aku bisa berbaur dengan anak-anak kecil dusun tempat kami tinggal. Tidak banyak, hanya 4-5 orang yang bisa kukenal di Masjid depan rumah, awalnya, lambat laun jumlah mereka bertambah hingga 9 orang. Rata-rata masih tingkat TK hingga yang tertua sudah duduk di bangku SMP. Dari obrolan ringan setelah shalat magrib berjamaah, kudapatkan informasi tentang aktifitas keseharian yang mereka lakukan. Bersekolah, belajar agama di Diniyah, bermain, lalu berkumpul di Masjid untuk shalat berjamaah Magrib, mengaji, hingga shalat berjamaah Isya. Selalu begitu, setiap hari.

Dari 4-5 orang tersebut, salah satunya adalah kakak beradik. Kakaknya perempuan, adiknya laki-laki. Perbedaan umur mereka mungkin terpaut 5 tahun. Mari sebut saja kakaknya bernama Eci, dan adiknya bernama Iki. Eci dan Iki adalah salah satu tokoh menarik dalam cerita perjalanan KKN-ku sampai detik ini. Tentang persaudaraan mereka, tidak berbeda dengan persaudaraan pada umumnya. Tentang lingkungan permainan mereka, sama saja dengan perkumpulan anak-anak di berbagai tempat. Hanya ada satu yang paling berbeda, tentang keluarga mereka.

Sudah beberapa tahun ini, Eci dan Iki tinggal hanya bersama Ayah dan Neneknya. Bapak dan emak, kedua anak ini memanggil mereka. Keseharian mereka bergantung pada dua orang itu. Ketika ditanya tentang pekerjaan ayahnya, dengan polosnya Iki menjawab “..bapak mah osok ngadu hayam, kak. Tuh di ditu, kadang di dieu..” (Bapak suka mengadu Ayam, kak. Tuh di sana, kadang di sini). Sambil menunjuk ke arah dekat kantor desa, dan ke arah kecamatan. Mendengar hal itu, aku hanya menjawab dengan senyuman dan tidak melanjutnya pertanyaanku. Tentang neneknya, hingga saat ini tidak pernah kutemui di lingkungan pemukiman. Mungkin, ia hanya berdiam di rumah saja, pikirku.

Awalnya, aku sama sekali tidak mengetahui tentang kenyataan bahwa mereka tidak tinggal lagi bersama ibunya. Baru kutahu ketika suatu waktu aku sedang bercerita dan mencontohkan moral value yang didapatkan dari cerita tersebut, Eci dan ibunya lah yang menjadi contoh yang kuambil. Namun tiba-tiba, semua anak-anak termasuk Eci dan Iki langsung berkata, “Kak, Eci sama Iki mah gak punya ibu.” Kata sebagian dari mereka, dan hal ini di-iya-kan oleh Eci dan Iki. Sontak aku terkejut, namun tetap aku coba untuk tidak terlalu menunjukkan itu di depan mereka. Aku langsung mengalihkan pembicaraan dengan mengambil contoh Sindy, anak yang lain.

Bahkan, sampai saat ini aku masih belum tahu tentang apa yang terjadi pada ibu dan keluarga mereka. Mungkin sudah meninggal dan banyak kemungkinan lainnya. Belum berani aku bertanya dan membahas hal ini, pada siapapun. Yang jelas, jika kudengar dari pernyataan Iki bahwa ia takut jika harus bertemu ibunya yang katanya galak, jelas Ibunya masih hidup dan mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi di keluarga mereka. Sebenarnya, bukan keberadaan ibunya yang membelenggu di pikiranku, melainkan tentang keharusan mereka menjalankan masa kecilnya tanpa seorang ibu. Terlebih Iki yang masih berusia 5 tahun, tingkat keingintahuannya sangat tinggi, ekspresif dan selalu ceria. Tidak ada raut kesedihan apapun yang tergambar di wajahnya. Begitu juga Eci, walau karena keterbatasan keluarganya, setiap malam ia harus pergi ke rumah tetangganya untuk menumpang mengerjakan tugas sekolah atau hanya sekadar minta diajarkan oleh ibu dari teman-temannya.

Tidak ada rasa sedih yang nampak dari wajah maupun perilaku mereka.

Riang, sama seperti yang lainnya.

Tidak peduli seberat apapun beban yang terpaksa harus mereka pikul di umur yang masih sangat kecil.

Tidak ada rasa gentar dalam menghadapi tantangan demi tantangan kehidupan mereka.

Mungkin karena mereka masih terlalu polos, atau bisa jadi karena mereka sudah paham tentang beratnya kehidupan.

Adalah yang paling menyayat hati ketika suatu hari, sekitar pukul 8 malam, aku mendengar suara Iki memanggil-manggil nama kakaknya. Aku dan teman-teman yang kebetulan berada di ruang tamu, langsung membuka pintu dan melihat apa yang terjadi. Kami menemukan Iki di gerbang masjid sambil kebingungan mencari keberadaan kakaknya. Dengan menggendong tasnya, ia melihat kanan kiri, berharap menemukan sosok kakaknya. Saat itu, sedang turun hujan. Aku langsung memanggil Iki untuk kemudian masuk dulu ke rumah kami. Ia pun mengiyakan dan kami mengobrol singkat untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Iki ternyata ditinggal oleh kakaknya pergi ke rumah salah seorang tetangga. Mungkin karena takut atau terlalu gelap, Iki tidak berani untuk pergi menyusul kakaknya. Bahkan ketika aku ajak pulang ke rumah saja, ia bersikuku ingin menyusul ke tempat kakaknya menumpang belajar. Aku dan salah seorang teman memutuskan untuk mengantar Iki ke rumah yang di maksud, dengan riangnya ia memperbolehkan kami. Kami mengantar Iki sampai ke rumah tempat kakaknya belajar dan kemudian kembali ke rumah.

Mungkin terdengarnya hal ini terjadi biasa-biasa saja, tapi tidak menurutku dan teman-temanku yang merasakan kondisi langsung ketika melihat seorang anak berumur 5 tahun tanpa orang-orang yang peduli, kebingungan di tengah hujan malam hari, mencari kakaknya yang mungkin tanpa maksud meninggalkan ia. Sedih bercampur rasa penyesalan. Menyesalkan tentang jalan hidup mereka yang sudah harus terlalu berat di umur yang masih terlalu kecil.

Tapi, rasanya semangat mereka tidak terpengaruh sama sekali oleh beratnya beban hidup masa kecil mereka. Mungkin hal ini, yang tidak semua dari kita memilikinya.

IMG-20150125-00128IMG-20150125-00129

2 thoughts on “Kita yang Belajar

  1. Subhanallah :’) inspiring banget kaaak, nangis bacanya.
    Baca tulisan* kakak sebelumnya, ak pengen banget kenal kakak, biar bisa berbagi pikiran, gitu. Gak tau lah hrs comment apa, tapi ak tertarik banget banget banget sama cara pandang kakak. Boleh gak kak, ak kontak kakak, minta email ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s