Pak Dudi, Perkenalan yang Singkat nan Bermakna

Sosok pak Dudi

Sosok pak Dudi

Alhamdulillah, tidak terasa KKN telah berakhir. Rasanya baru kemarin-kemarin saya bertemu dengan teman-teman dan dosen pembimbing lapangan untuk pertama kalinya, di salah satu gedung Fakultas Peternakan. Hari ini, selesailah semua kewajiban KKN. Banyak yang membuat saya bersyukur dan semakin bersemangat dalam menjalankan perkuliahan. Banyak pula yang membuat hati saya tersentuh dengan berbagai perlakuan yang luar biasa baiknya dari seluruh warga desa. Sampai ketika pulang pun, kami diantarkan dengan derai air mata pak dusun dan warga lainnya. Bukti kesedihan atas perpisahan dari sebuah pertemuan singkat yang kurang lebih hanya satu bulan.

Bukan hanya moment yang berasal dari warga desa saja yang berbekas dalam benak, pertemuan dengan teman-teman pun luar biasa menyenangkannya. Bahkan sebenarnya salah satu yang membuat saya merasa lebih beruntung adalah mendapatkan dosen pembimbing lapangan yang luar biasa perhatian dan hebat. Pak Dudi, menurut saya adalah sosok dosen dengan karakter kebapak-an yang kekinian. Beliau sering menggunakan metode pendekatan yang menyenangkan kepada mahasiswa-mahasiswanya, terutama kami sebagai anak bimbingnya.

Sejak pertama kali bertemu, beliau menawarkan untuk tidak dipanggil bapak, cukup dengan kata kang saja. Padahal sebagai orang sunda, yang saya tahu sebutan kang itu kurang lebih ditujukan untuk mereka yang merupakan kakak laki-laki atau laki-laki yang lebih tua umurnya. Canggung rasanya ketika kami harus memanggil dosen yang kami hormati dengan panggilan kang. Namun ternyata, hal itu yang menjadi pembuka jalan kedekatan beliau dengan saya dan teman-teman kelompok lainnya. Menyenangkan.

Pak Dudi, juga merupakan dosen yang sangat perhatian kepada mahasiswa-mahasiswanya. Dengan komunikasi yang intens selama KKN, baik melalui media by phone atau hanya short message saja, kami merasa terus dibimbing dan diperdulikan selama berada di tempat asing. Selalu beliau berpesan, “Jaga kesehatan, dan jaga kekompakkan”. Pesan yang simple, namun memang benar-benar penting. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa kami sampai akhir perjuangan KKN mampu membentuk kelompok yang luar biasa dekat dan kompak sabagaimana yang diinginkan.

Bentuk perhatian pak Dudi bukan hanya tergambarkan dari bagaimana cara beliau menjaga komunikasi dengan kami. Hal lain yang saya rasakan secara pribadi adalah sifat perhatiannya beliau dibuktikan dengan selalu mengecek hasil kerja anak-anak bimbingannya. Sempat saya menulis cerita di blog ini tentang sekilas perjalanan di KKN, hanya cerita pribadi, bukan untuk dikonsumsi secara formal, bahkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan. Namun beberapa hari setelah saya publish, beliau menelepon dan memberikan apresiasi tentang tulisan tersebut. Padahal, saya tidak memberi tahu siapapun di antara teman-teman KKN bahwa saya telah memposting salah satu cerita menarik selama KKN. Hal ini yang menjadi trigger bagi saya untuk terus belajar menulis. Pak Dudi, dosen dengan metode memotivasi yang menarik.

Menurut saya, selama KKN banyak hal yang perlu saya pelajari dari sosok pak Dudi. Selain kedua hal tersebut, beliau selalu ramah, enjoy, menyenangkan, dan mampu memposisikan diri sebagai dosen, pembimbing, bapak, dan teman untuk kami. Tentang pak Dudi, menjadi bumbu tambahan yang membuat perjalanan KKN saya dan teman-teman semakin bermakna. Terimakasih, bapak. Semoga tetap menyenangkan, sampai akhir perjuangan.

S__25174119

Kami dan Pak Dudi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s